"Siapapun, tolong belilah aku."
--
Rasa dingin menusuk kulit, tubuh gemetar karena sentuhan rintik-rintik hujan yang amat dingin.
Sendiri kuberdiri di pinggir jalan kota, rasa dingin karena hujan tak kuhiraukan. Tatapanku kosong, mulut sedikit terbuka, pikiranku hitam, blank, kosong. Kubiarkan rintik-rintik hujan perlahan menetes ke wajahku, kubiarkan hawa dingin memelukku, kubiarkan rasa hampa menderaku.
Bosan.
Membosankan. Membosankan. Membosankan.
Mataku terpaku kearah mobil yang berhenti di depanku, jendelanya perlahan turun, kudapat melihat sesosok laki-laki didalam sana. Telingaku seakan-akan tak mampu mendengar suaranya, namun kutahu bahwa itu hanyalah pikiranku yang sangat kosong dan sudah tidak peduli akan apapun lagi.
Kudapat melihatnya membuka tutup mulutnya, senyumannya penuh akan niat tidak baik. Mungkin aku tak memperdulikan apapun kata-katanya, tapi aku tahu dengan sangat jelas apa maunya.
Tetapi lagi, aku tidak peduli apa maunya.
Aku bosan.
Mataku menangkap gesture tangannya yang seakan memanggil, kepalaku mengangguk pelan, akupun mulai melangkah kearahnya perlahan. Kubuka pintu mobil itu, lalu memasukinya, pikiranku tetap kosong.
Aku butuh uang.
--
Lagi, kuberdiri di pinggir jalan kota, mataku menatap lembaran-lembaran kertas yang ada di tanganku, pikiranku masih hampa. Aku membiarkan lembaran-lembaran itu basah akan rintik-rintik hujan yang masih membasahi kota ini.
Tak lama, kudapat merasakan beberapa tetesan air yang hangat di pipiku, akupun mengangkat tanganku dan menyentuh pipiku.
Tangisan. Lagi.
Ekspresiku tak berubah, namun aku tahu bahwa aku sudah tak dapat menyembunyikannya lagi.
Air mata lah yang mengalir di pipiku, perasaanku sudah tak dapat kubendung lagi.
Amarah, dan putus asa.
Kedua perasaan itu sungguh melekat erat di dalam hatiku, perasaan yang amat sangat tidak menyenangkan. Aku marah karena apa yang harus kuperbuat demi beberapa lembar sial itu, aku putus asa karena tanpa beberapa lembar itu, aku tidak akan mampu membuka mataku untuk menyambut datangnya esok pagi.
Aku tidak bisa lari dari kenyataan ini, seberapa besarpun inginnya aku membuat diriku lupa akan siapa aku saat ini, aku tidak dapat menipu diri sendiri, aku hanyalah sampah masyarakat belaka. Namun aku tidak dapat melakukan apapun untuk merubah siapa diriku ini, aku tidak mampu merubahnya.
Di malam yang kosong, dan sepi ini, hanya air mataku yang diam-diam selalu menemaniku dan mampu mengerti siapa aku sebenarnya. Air mata yang selalu mengalir tanpa henti, dan aku selalu menggunakan rintik-rintik hujan untuk menyembunyikan air mataku.
Siapapun, tolong beli lah air mata ini.
Aku tertawa pahit.
Telingaku dapat mendengar suara mesin mobil yang perlahan melaju mendekatiku, pikiranku kembali kosong, apakah itu barusan adalah suara pekerjaanku yang datang menghampiri?
Perlahan aku melihat kearah datangnya suara itu, di depan mataku terdapat sebuah mobil yang terlihat mewah, warna hitam mengkilat, dan model mobil yang kutahu tidak seperti apa yang kulihat pada umumnya, aku menduga bahwa pemilik mobil tersebut orang kaya, karena aku tahu mobil ini bukan mobil biasa, ini mobil mahal.
Aku sedikit melenguh, berpikir bahwa bahkan orang kaya pun masih butuh sampah masyarakat sepertiku.
Namun, kemudian aku merasa heran ketika pemilik mobil tersebut melangkah keluar dari mobil tersebut. Aku dapat melihat sosok berambut hitam pendek, yang tubuhnya tidak jauh lebih tinggi dariku, raut wajahnya terlihat keras dan dingin, matanya tajam, dan dia mengenakan setelan jas hitam.
Dia mengeluarkan sebuah payung dan membukanya, lalu dia berjalan mendekatiku hingga payungnya dapat melindungiku dari rintik-rintik hujan. Aku menatapnya tanpa mengutarakan sepatah katapun, namun sosok itu hanya menatapku balik dengan dingin.
Setelah beberapa saat kami saling bertatapan dengan terdiam seribu bahasa, dia mengangkat tangannya, lalu mengusap pipiku yang basah karena hujan yang juga bercampur air mata, sambil berujar, "...Ikut aku." Ucapnya dengan nada yang sangat rendah dan lembut.
Entah kenapa, perasaanku mengatakan dia berbeda dari lainnya.
Tangannya meraih tanganku, lalu menuntunku perlahan ke mobilnya, aku memasuki mobilnya dengan perasaan campur aduk.
Kemudian kami pun pergi bersama dengan mobilnya.
Satu hal yang kusadari, orang ini aneh, biasanya orang yang menyewaku akan membawaku entah kesuatu tempat yang sepi hingga kita bisa berbuat apapun di mobil ini, atau membawaku ke suatu hotel terdekat.
Namun tidak untuk orang ini, dia terlihat seperti akan membawaku ke suatu tempat yang tidak kuketahui. Entah kenapa bulu kudukku berdiri, entah karena rasa takut atau rasa sebuah rangsangan aneh. Orang ini membuatku penasaran dan aku tidak tahu mengapa.
Mungkin perawakannya?
Orang ini memang sangat menawan, dari bentuk rahangnya, bentuk bibirnya, bentuk matanya yang tajam, potongan rambutnya yang membuat dia terlihat sangat memikat, tubuhnya yang ramping dan terlihat kuat.....entah kenapa orang ini membuat jantungku berdetak lebih cepat hanya karena perawakannya saja.
Satu saja pertanyaanku, dia ini pria atau wanita?
Sekilas dari perawakannya dan gaya bajunya, orang-orang pasti akan mengiranya sebagai seorang laki-laki tampan biasa, namun aku tahu dia lebih dari itu. Ketika dia membuka
mulutnya tadi, walau suaranya memang terdengar seperti suara laki-laki, namun ada kelembutan dari cara bicaranya layaknya seorang wanita.
Dan juga bentuk tubuhnya, entah kenapa menyaratkan bahwa dia adalah seorang wanita, wanita yang sangat maskulin dan kuat.
Banyak pertanyaan muncul di dalam benakku, namun aku menelan suaraku dan mencoba menahan diri untuk bertanya yang tidak perlu, aku tidak ingin kena masalah.
Aku dapat merasakan mobil terhenti, aku tersadar dari benakku dan melihat keluar jendela, alisku naik sebelah karena rasa heran. Orang ini membawaku ke sebuah rumah yang sangat besar, dan mewah, namun dapat kulihat bahwa rumah itu tidak begitu terawat.
Kami melangkah keluar dari mobil itu dan berjalan kearah rumah itu.
Di dalam rumah itu, dia menuntunku kearah sebuah kamar, di dalam kamar itu dia membuatku menunggu di sebuah sofa yang ada, lalu kudapat melihatnya berjalan menuju sebuah lemari dan mengeluarkan sebuah handuk.
Dia berjalan mendekatiku dan memberikanku handuk itu, "...Kamar mandinya disana, kamu bisa bersihkan diri kamu disana." ujarnya sambil menunjuk ke sebuah pintu. Bulu kudukku kembali berdiri ketika aku mendengar suaranya yang lembut itu.
Dengan satu anggukan pelan akupun berjalan menuju kamar mandinya. Disini, dia seperti layaknya yang lain, aku pasti akan disuruh untuk membersihkan diri karena aku memang
hanya muncul ketika hujan turun, kenapa? Agar aku bisa mengeluarkan air mataku tanpa ada yang mengetahui. Dan karena tubuhku yang basah karena air hujan mereka biasanya akan memintaku untuk mandi terlebih dahulu, terkecuali mereka yang mengajakku di dalam mobilnya.
Di dalam kamar mandinya, satu demi satu kain yang melekat di tubuhku kutanggalkan, mataku menatap kearah cermin yang memperlihatkan refleksiku, senyum pahit tersungging di bibirku, mataku penuh akan rasa kecewa, kecewa karena apa pun aku tidak tahu.
Mungkin di dalam hatiku yang terdalam aku mengharapkan bahwa orang ini akan memberikan sesuatu yang lain, namun sepertinya dia sama saja dengan manusia-manusia jahanam di luar sana, yang hanya menginginkanku demi kepuasaan pribadi mereka.
Aku memutar keran shower itu, dan membiarkan air hangat menyentuh kulitku, aku menghela nafasku, merasa sedikit senang karena setidaknya aku dapat merasakan sebuah kehangatan setelah berlama-lama di bawah naungan air hujan yang dingin.
Tak lama, aku merasakan nafas yang panas di pundakku, aku merasa terkejut dan hendak memutar badanku untuk melihat siapa yang berada di belakangku, namun sosok yang ada dibelakangku mendorong tubuhku dan menghimpitkan tubuhku ke tembok dengan tubuhnya, aku sedikit meronta dan hendak berteriak namun suaraku tertelan.
Tunggu dulu....
Aku berhenti bergerak dan merasakan bentuk tubuh yang menghimpitku.
Tidak salah lagi, dia seorang wanita.
Aku dapat merasakan bentuk dadanya di punggungku, dan aku dapat merasakan betapa lunaknya kulitnya layaknya wanita. Dia menghimpitkan tubuhnya lebih dekat lagi, aku semakin dapat merasakan kehangatan tubuhnya yang perlahan membuatku nyaman, membuatku merasa cocok di dalam dekapannya.
Aku kembali merasakan sebuah nafas panas di pundakku, lalu aku dapat merasakan sentuhan lembut dari bibirnya, seketika tubuhku bergidik, rasa merinding menderaku. Aku merasa heran, ini pertama kalinya aku merasa seperti ini terhadap 'pelanggan'ku, aku dapat merasakan tubuhku perlahan memanas di setiap sentuhan lembut bibirnya.
Tangannya memegang daguku dan memutar kepalaku agar menghadapnya, aku menatap kedua bola mata tajamnya itu, tatapannya serasa menelanjangi seluruh isiku. Dia mendekatkan wajahnya, akupun menutup mataku karena mengetahui apa yang dia inginkan.
Namun selang beberapa saat, aku merasakan dia menjauhkan tubuhnya dariku. Aku membuka mataku dan membalikkan badanku. Aku dapat melihatnya melangkah keluar dari showernya.
Walau hanya sesaat, namun aku sempat melihat ekspresi wajahnya yang menyiratkan rasa bersalah, aku melihat dahinya mengernyit, dan itu membuatku terheran-heran. Tapi rasa heran itu sekejap menghilang ketika aku merasakan kedua kakiku manjadi sangat lemas hingga aku tak mampu berdiri. Aku terduduk di lantai, nafasku menjadi berat dan darahku berdesir hebat.
Dia tidak melakukan banyak kepadaku, tapi hasilnya mampu membuat kakiku terasa seperti jelly.
Bagaimana bisa?
--
Aku melilitkan handuk di tubuhku lalu berjalan keluar dari kamar mandi itu. Aku melihat orang itu di atas kasur, di bawah selimut. Aku berjalan mendekatinya dan duduk di pinggiran
kasurnya, aku menatap sosok orang itu dengan satu alis naik, merasa bingung.
Kulepaskan handuk yang melilit di sekitar tubuhku dan membiarkannya jatuh keatas lantai.
Aku mengangkat tanganku, berniat untuk menyentuhnya, namun kata-katanya membuatku terhenti, "...Kamu, gunakan waktu ini untuk istirahat saja, tidur." Ujarnya, mataku terbelalak.
Dengan sangat ragu-ragu aku masuk ke dalam selimutnya dan berbaring di kasurnya. Dahiku mengernyit, merasa bingung akan keadaan ini karena ini pertama kalinya aku diperlakukan seperti ini.
Kemudian aku merasakan usapan-usapan lembut di kepalaku, itu membuat mataku perlahan menutup. Tubuhku memang sudah lama merasa letih. Bibirku tersungging sebuah senyuman kecil sebelum akhirnya duniaku perlahan menjadi gelap.
Entah untuk berapa lama aku tertidur, tapi ketika ku membuka mataku, aku dapat melihat cahaya matahari memasuki kamar itu. Aku terduduk di kasur itu dan menengok kesamping, hanya untuk melihat disampingku tidak ada siapa pun. Aku menggaruk kepalaku lantaran heran dan sungguh tidak paham akan situasi ini, aku terjebak di situasi macam apa?
Telingaku menangkap suara pintu terbuka, aku melirik ke arah pintu kamar itu, untuk melihat 'dia' berjalan masuk. Pakaiannya terlihat belum rapi, beberapa kancing kemeja putihnya masih belum terkancing dan kemejanya belum dimasukkan kedalam celana bahan hitamnya, dasinya belum pula terikat rapi.
Lalu aku menyadari bahwa dia membawa sarapan di atas nampan yang dia pegang. Aku mengedipkan mataku beberapa kali ketika dia meletakkan nampan yang berisi sarapan itu di atas kasur, lalu aku alisku naik karena heran, dia membuatkanku sebuah--yah terlihat seperti--omelet, namun omelet tersebut terlihat gosong....dan tidak memiliki bentuk yang 'pasti'.
"Kamu," Ujarnya, aku menatapnya dengan tatapan bertanya-tanya, lalu diapun berdehem dan berkata, "...ini sarapan kamu, makan saja."
Oh itu benar untukku, toh.
Aku tak bisa menghentikan sebuah senyuman di bibirku, aku mengangguk pelan dan mencoba sarapan yang orang ini buat. Dahiku mengernyit ketika omelet itu menyentuh lidahku, sangat pahit dan tidak ada rasa apapun yang bisa di tolerir lidah, sesuai dugaanku.
Pada detik itu, aku merasakan layaknya ada tombol yang tertekan, aku kemudian menatapnya dengan sangat tajam dan berkata dengan nada sangat ketus, "Ini yang setiap pagi kamu makan?"
"Iya--"
"Ini yang setiap pagi kamu makan?"
"Ya aku tidak bisa masak--"
"Makanan supermarket macam Forty Eight yang tidak enak itu lebih enak daripada ini!"
"Aku--"
"Kamu ada bahan makanan lainnya?" Untuk sesaat orang itu terdiam dan menatapku dengan tatapan sangat heran.
"Ah...aku cuma punya kornet dan telur...."
Aku menarik nafasku dalam-dalam, lalu aku mengangkat nampan itu dan sedikit melemparnya ke dia, "Kubuatkan sarapan yang benar, mana dapurmu?" Kemudian aku berdiri dari
kasur dan hendak berjalan menuju pintu.
Namun kata-katanya membuatku terhenti, "...Anu, kamu masih belum mengenakan baju apapun."
Aku menatap ke tubuhku sendiri, aku terdiam untuk beberapa detik sebelum aku menutup bagian-bagian privatku dan sedikit mengeluarkan suara yang memekik.
--
"....Apa yang kulakukan?"
Ya, apa yang sedang kulakukan?
Aku berada di rumah orang asing, ya lebih tepatnya orang asing yang menyewaku, tetapi orang asing tersebut tidak melakukan apapun kepadaku dan malah membiarkanku tidur dan sempat membuatkan--apa yang terlihat seperti--sebuah sarapan.
Lalu karena sarapan yang dia buat sungguh amat sangat buruk rasanya entah kenapa aku sekarang disini, di dapurnya, selesai membuatnya sebuah omelet yang dicampur dengan kornet dan beberapa bahan lainnya yang masih tersisa di kulkasnya.
Tidak hanya itu.
Aku menatap ketubuhku, kutatap kemeja putih yang terlihat lebih besar dari tubuhku yang kukenakan. Oh sungguh aku terlihat seperti layaknya istri seseorang.
Aku ingat tadi ketika aku baru saja menyadari bahwa tidak ada sehelai kainpun yang menempel di tubuhku, aku dengan cepat berlari ke kamar mandi dimana aku meninggalkan dress hitamku, lalu aku sadar bahwa dress tersebut masih sangat basah akibat hujan.
Akhirnya akupun mengintip dari pintu kamar mandinya dan menanyakan apakah aku bisa meminjam bajunya.
Aku meletakkan dahiku di telapak tanganku sambil bergumam. Oh kenapa?
Setelah sekian waktu terbuang karena pikiran-pikiranku, aku dapat mendengar perutku berbunyi, menandakan kondisiku yang belum sempat memberi perutku makan.
"Ah....iya, mungkin karena aku kelaparan." Aku mengangguk, menyetujui jawabanku sendiri.
Aku mengangkat nampan itu dan membawanya ke meja makan yang berada tak jauh dari dapur itu, aku dapat melihat orang itu duduk di kursinya, terdiam, matanya tak lepas dariku, ekspresi heran kian menghiasi wajahnya.
"Ini, sudah kubuatkan untuk kita berdua." Ujarku sambil meletakkan nampan itu diatas meja makannya.
Dia menggaruk kepalanya, terdiam, lalu menganggukkan kepalanya dan mengambil piringnya dari nampan, akupun bertindak demikian juga, tak sabar ingin memenuhi kebutuhan biologisku.
Ketika aku mulai memakan makanan buatanku, aku bersenandung senang karena puas akan masakan buatanku yang kuanggap terasa sempurna. Aku melirik ke arah orang itu, untuk melihatnya sedang makan dengan lahap dengan ekspresi yang penuh akan rasa senang, layaknya serigala yang kelaparan dan akhirnya mendapatkan makanan yang enak sejak sekian lama.
Dia....tinggal sendirian di sini?
Aku melirik ke berbagai sudut rumahnya, aku menyadari bahwa rumahnya berdebu, dan rumahnya sangatlah hening bak kuburan ketika kita tidak bersuara sama sekali. Tanya demi tanya terbesit di pikiranku lagi. Rumahnya sangatlah mewah, namun tak terawat, dan dia tinggal sendirian di rumah semewah ini, siapa orang ini sebenarnya?
"Ghaida."
Aku tersadar dari benakku dan menatapnya dengan bingung, "Maaf....apa?"
"Namaku Ghaida Farisya." Dia meletakkan sendoknya dan menatapku, "...Kamu terlihat ingin bertanya siapa namaku." Tidak sepenuhnya salah, namun yang kuingin ketahui adalah siapa dia. Tapi mengetahui namanya juga tak apa.
Lagi, aku tersadar dari benakku, "Ah, iya, namaku.....Dhike, biasa dipanggil Ikey"
"Hm." Dia mengangguk pelan lalu menghabiskan sisa makanannya.
Aku tidak tahu apa tadi itu hanya imajinasiku, tapi aku sedikit melihatnya bergidik dan sempat mengerutkan dahinya untuk sesaat.
--
Kembali aku merasa bingung.
Aku menatap pintu utama rumah itu yang perlahan tertutup. Setelah pintu itu tertutup rapat, aku menatap kearah langit-langit rumahnya yang sangat tinggi. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang.
Aku teringat pembicaraan kita beberapa saat sebelum Ghaida pergi kerja, dia sempat menanyakan kapan aku berniat untuk pulang, lalu kukatakan bahwa aku tidak memiliki tempat tinggal, hingga aku tak punya tempat tuk pulang. Pada saat itu, kulihat wajahnya menunjukkan rasa bersalah, aku masih tidak mengerti mengapa dia terlihat seperti itu. Lalu mengatakan bahwa aku diperbolehkan untuk tinggal sementara di rumahnya.
'Tidak ada penghuni lain selain aku ini.' Aku ingat-ingat ucapannya sebelum pergi barusan.
Sebuah helaan nafas keluar dari mulutku, sejujurnya aku sangat senang memiliki tempat tinggal sementara, karena rumah ini jelas jauh lebih baik daripada sebuah taman, atau bawah jembatan, atau rumah kosong, dan aku dapat mandi dan makan layaknya manusia seperti biasa.
Layaknya aku dahulu.
Tubuhku bergidik, bulu kudukku berdiri. Aku menggeram lalu menggelengkan kepalaku, mencoba untuk melupakan masa laluku.
Masa lalu yang membuatku terjebak di dunia malam, masa lalu yang membuatku kehilangan tempat tinggal.
Malam itu, ketika kedua orang tuaku terbunuh oleh perampok, dan perampok tersebut membakar habis rumahku dan semua hartaku, termasuk surat-surat penting, hanya meninggalkan aku sebuah trauma dan bau abu yang kadang entah kenapa masih sempat tercium.
Aku memeluk tubuhku sendiri, tubuhku yang kujajakan demi sebuah kehidupan yang kosong lebih lama lagi. Apa daya, aku tidak memiliki apapun yang bisa kujual, aku hanya dapat menjual air mata yang selalu menetes ketika orang lain melampiaskan nafsu bejatnya terhadap diriku, air mata yang kian menetes karena aku tahu nasibku yang sangat kelam dan kejam.
Aku mungkin masih bertanya-tanya mengapa orang itu, Ghaida, tidak melakukan apapun walau dia menyewaku, dan dia malah membiarkanku tinggal di rumahnya untuk sementara.
Walau tadi malam dia sempat....menciumi punggungku sedemikian rupa hingga membuat seluruh tenagaku hilang, tapi dia tidak melakukan lebih dari itu.
Mungkin aku bertanya-tanya, tapi disisi lain aku merasa senang dan beruntung, karena aku akhirnya memiliki atap di atas kepalaku, lagi. Aku lelah untuk berdiri di pojokan kota demi sesuap nasi.
Aku merasa manipulatif.
Dan aku selamanya mengutuk perampok yang mencuri semuanya dariku itu hingga aku sekarang menjadi seperti ini.
Aku menghela nafasku, lalu menatap setiap sudut rumahnya lagi. Sebuah ide muncul di dalam benakku, aku dapat membersihkan rumahnya, setidaknya itu yang bisa kulakukan untuk dia karena kebaikannya padaku.
Aku berjalan kearah dapur, berharap perlengkapan bersih-bersih ada disana. Dan benar saja, semua peralatan bersih-bersih ada disana, aku tersenyum dan dengan sigap dan cepat mulai membersihkan rumahnya. Dilihat dari ukuran rumahnya....kurasa aku bisa membersihkannya dalam waktu 2 sampai 3 jam, sangat lama, karena memang rumahnya tidak terawat dan sangat besar, terdiri dari dua lantai.
Pertama aku membersihkan lantai satu, aku terutama membersihkan dapur, lalu mulai membersihkan semua lantai yang bisa kulihat sebelum aku mulai membersihkan ruangan-ruangan yang ada di lantai satu.
Pada lantai satu terdapat ruang baca, dimana isinya terdapat banyak sekali buku-buku, banyak diantaranya memiliki judul dengan bahasa yang tidak kumengerti. Ada juga semacam gym, isinya terdapat banyak alat-alat untuk keperluan olahraga dan juga bela diri.
Ini membuatku berpikir, apakah Ghaida jago bela diri?
Lalu terdapat satu ruangan ini....yang membuatku sangat takut untuk membersihkannya.
Ruang senjata, pedang, pisau dan berbagai macam senjata tajam lainnya. Aku berpikir bahwa Ghaida merupakan seorang kolektor senjata tajam, atau jangan-jangan dia berkerja sebagai penjual senjata tajam?
Koleksi senjata tajam yang ada diruangan ini terlihat sangat mahal, dan aku menyadari bahwa setiap senjata tajam yang ada diruangan ini sangat bersih dan terawat, mungkin memang ini benda-benda kesayangannya, aku harus sangat hati-hati membersihkan ruangan ini.
Tapi ketika aku membersihkan lantai dua, dimana di lantai ini hanya terdapat kamar tidur, entah kenapa aku merasakan ada yang aneh dengan setiap kamar tidur yang ada, kecuali kamar Ghaida.
Walau diluarnya terlihat seperti tidak terawat, namun anehnya, di dalam kamar-kamar yang terdapat di lantai dua, terlihat sangat bersih dan rapi, dan entah kenapa....terasa seperti ada yang mendiami kamar-kamar itu, karena terlihat 'hidup' dan tidak kosong begitu saja walau tidak ada siapapun yang menempatinya.
Lalu...ruangan itu.
Aku entah kenapa merasa sangat aneh, karena terdapat satu ruangan terkunci, dan hanya ruangan ini yang bagian luarnya terlihat sangat terawat. Dan terdapat sebuah pot bunga disamping pintu kamar itu.
Ruangan apa ini?
Tetapi karena aku tidak memiliki kunci untuk ke ruangan itu, dan merasa bahwa ruangan itu memang sebaiknya tidak dimasuki, akupun hanya mengangkat bahu dan berjalan pergi
untuk mengembalikan peralatan bersih-bersih yang kugunakan ke dapur.
Ketika aku berjalan ke ruang tengah, aku mendengar suara pintu terbuka, aku mengangkat alisku dan melirik ke arah pintu, untuk melihat Ghaida sudah kembali, dan wajahnya menunjukkan rasa terkejut ketika dia menyadari ada yang berbeda dengan rumahnya.
Sudah berapa jam waktu yang terlewat untuk membersihkan rumahnya? Sampai ketika aku baru selesai dia sudah pulang begini.
"Oh....hai." Sapaku, sedikit ragu-ragu. Ghaida berjalan masuk sambil melihar ke kiri dan kanannya, wajahnya semakin terlihat terheran-heran. Ketika dia menatapku dengan tajam, aku hanya sedikit tersenyum.
Aku berkata sambil melirik ke arah lain, "Uhm....karena kamu sudah baik padaku....aku membersihkan rumahmu untuk menunjukkan rasa terimakasihku--" Aku mengeluarkan suara
terkejut ketika aku menyadari bahwa dia berdiri sangat, sangat dekat denganku. Matanya sangat tajam dan dia menatapku tepat di mata, itu membuat tubuhku bergetar seketika.
"Apa kamu masuk ke ruangan itu?"
Aku menelan ludahku ketika aku mendengar nada bicaranya yang sangat dingin dan mengintimidasi, "R-Ruangan....itu...?"
"Ruangan terkunci itu."
"A-Ah...tentu tidak kok....."
Mendengar itu, seketika matanya yang sangat tajam berubah menjadi sangat lembut, dia mengeluarkan nafas yang menunjukkan sebuah kelegaan. Lalu dia mengangkat tangannya dan menepuk kepalaku.
Dia sedikit tersenyum, "...Terimakasih, dan maaf menakutimu." Lalu dia berjalan pergi menuju lantai dua, mungkin menuju kamarnya.
Aku sudah menduga, ruangan itu sangat penting baginya, dan melihat reaksinya, dia sangat tidak ingin siapapun mendekati ruangan itu. Walau aku merasa sangat penasaran, namun aku merasa sebaiknya aku menghormati privasinya.
Kakiku memutuskan untuk berjalan dan mengikutinya ke kamarnya.
Di kamar, aku melihat Ghaida duduk di pinggiran kasurnya dan melepaskan jas hitamnya, lalu perlahan dia buka ikatan dasinya.
Aku menelan ludahku ketika aku melihat caranya membuka ikatan dasinya, jantungku berdetak sedikit cepat. Ketika dia menarik dasinya, melepaskannya dari kerahnya. Dia pun kemudian membuka beberapa kancing kemeja putihnya. Melihat jari-jarinya yang membuka kancingnya dengan sedemikian rupa menariknya membuat darahku mulai berdesir cepat.
Perasaan semalam kembali terngiang di pikiranku.
Tanpa sadar aku berjalan mendekatinya, lalu aku berdiri tepat di depannya. Ghaida menyadari kehadiranku dan menoleh keatas, menatap mataku dengan matanya yang tajam itu.
Aku dapat melihat rambutnya perlahan jatuh dari pipinya, memperlihatkan betapa halusnya rambutnya itu, aku ingin sekali menyentuh rambutnya.
Mataku menatap bibirnya, teringat kembali kejadian semalam, ketika bibirnya itu menyentuh punggungku dengan lembut.
Aku menahan nafasku, lalu menggelengkan kepalaku, akupun kemudian duduk di sampingnya dengan wajah berpaling darinya, menutupi mukaku yang sepertinya sangat memerah.
Aku mencoba menenangkan jantungku, merasa takut suara detak jantungku dapat didengar olehnya.
Lalu, aku dapat merasakan sebuah kehangatan di tanganku, aku melirik ke tanganku, melihat terdapat tangan yang sedang menyentuhku. Aku akhirnya menoleh ke arahnya, lalu mataku terbelalak ketika aku menyadari betapa dekatnya wajahnya ke wajahku, aku dapat merasakan wajahku kembali memanas.
Kami terdiam untuk beberapa saat, tak dapat menemukan kata-kata yang pas di situasi ini. Wajahnya dengan sangat pelan mendekatiku, itu membuat nafasku tertahan, dan jantungku menggila, pikiranku menjadi kosong.
Ketika bibir kami hanya berjarak beberapa senti, ekspresinya berubah, kemudian dia menjauh.
Aku merasakan ada binatang buas di dalam diriku.
Tanganku meraih ke belakang kepalanya, aku genggam rambutnya lalu aku menarik kepalanya, dan membenturkan bibirnya di bibirku, aku dapat melihat matanya terbelalak karena tindakanku.
Aku sudah tidak peduli.
Malam itu membuat seluruh tubuhku bereaksi terhadapnya, dan aku sudah tak kuasa untuk menahannya. Mungkin pengalaman-pengalamanku sudah membuatku rusak, mungkin pikiran-pikiran stress sudah membuatku gila, tapi aku sudah tidak peduli lagi.
Aku mau Ghaida.
Aku menenggelamkan bibirku lebih dalam lagi di bibirnya, dan itu menghasilkan sebuah erangan lembut darinya, itu membuat tindakanku menggila. Kedua tanganku menggenggam pundaknya, lalu aku mendorongnya ke atas kasur tanpa melepaskan pertemuan bibir kami.
Dia pun akhirnya mulai menciumiku balik, aku menggenggam erat pundaknya dan menindihkan tubuhku di atas tubuhnya. Aku menjulurkan lidahku dan menjilati bibirnya, meminta izin untuk membiarkan aku masuk. Aku dengan cepat menjelajahi dalam mulutnya dengan lidahku ketika dia akhirnya membuka mulutnya, rintihan-rintihan kecil lari dari bibirku.
Secara tiba-tiba, Ghaida menjauhkan wajahnya dan membalikkan tubuhku, sehingga posisiku menjadi dibawahnya, aku sedikit mengeluarkan suara memekik karena terkejut akan tindakannya. Dia menatapku, matanya terlihat sayu dan sebuah hasrat dapat terlihat dengan jelas di wajahnya. Aku membalas tatapannya dengan memanggil namanya sambil sedikit mendesah, aku dapat melihat pundaknya bergidik.
Dia membuka mulutnya, terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi kemudian menutupnya kembali dan menggelengkan kepalanya, lalu dia kembali menatapku dengan sayu, seakan-akan meminta izin. Aku melingkarkan lenganku di tubuhnya dan membiarkan telapak tanganku berada di punggungnya, lalu aku sedikit menariknya, menunjukkan bahwa aku mengizinkannya.
Ghaida mengecup bibirku, lalu memberikan kecupan-kecupan sangat lembut di pipi, dagu, rahang, lalu leher. Aku merintih ketika aku dapat merasakan bibirnya menyentuh leherku yang sensitif. Kecupan-kecupan lembutnya itu lah yang membuat seluruh tubuhku bergetar.
Kedua tanganku mencoba untuk membuka kancing-kancing kemejanya, walau sulit karena rasa nikmat akibat sentuhan bibirnya yang terus menyerang pikiranku. Ketika akhirnya semua kancingnya lepas, diapun melepaskan kemejanya. Aku menatap kulit tubuhnya yang terbuka, aku menelan ludah, merasakan lapar, nafsu, aku ingin sekali menggigit tubuhnya.
Tubuhnya sangat slim, dan aku dapat melihat terdapat otot-otot yang terbentuk di berbagai tempat di tubuhnya, membuatnya sangat terlihat.......menggiurkan. Tetapi aku pula menyadari bahwa di tubuhnya terdapat beberapa bekas luka.
Aku melihat dadanya dibaluti perban, aku menebak kalau dia tidak menyukai bra. Dengan kepala yang sudah melayang karena gairah yang memuncak, aku berusaha untuk melepaskan perbannya, kuingin sekali melihat kulit dibalik perban itu, Ghaida yang menyadari itu membantuku melepaskannya.
Aku melirik ke arah perban yang perlahan jatuh diatas kasur, lalu aku menatap dadanya yang terekspos, seketika bagian bawahku terasa panas, aku tidak pernah merasa terangsang seperti ini hanya karena melihat tubuh sesama wanita.
Bahkan aku tidak pernah merasa segila ini ketika dengan pria-pria di luar sana. Selama ini aku hanya merasa kosong, hanya boneka yang dimainkan belaka, tapi tidak dengannya, ini berbeda, perasaanku dan reaksiku terhadap Ghaida sangat berbeda dengan yang lainnya, seluruh isiku bergejolak karena sentuhan atau kecupan dia.
Ghaida mengangkat kepalanya lalu menatapku dengan satu alis naik, lalu dia melirik kearah mana aku menatap, dia pun kemudian menunduk dan menenggelamkan bibirnya di bibirku, menyadarkanku.
Tangannya menjamahi tubuhku, menyentuh-nyentuh ke berbagai tempat yang membuatku merintih sambil melepaskan kancing-kancing kemeja yang kukenakan. Dengan perasaan tidak sabar, aku pun dengan cepat melepaskan satu-satunya kain yang melekat di tubuhku, karena aku tidak memakai apapun di bawahnya.
Dia menindihkan tubuhnya diatasku dan menggeram, mungkin karena kontak kulit yang dirasakannya. Lenganku melingkar dengan sangat erat di tubuhnya, menariknya ke tubuhku lebih dekat lagi sambil menciumnya lebih dalam lagi, aku mengulum bibirnya dengan buas.
Nafasku tertahan ketika aku merasakan tangannya menelusuri tubuhku dan menuju kebawah sambil membisikkan namaku.
--
Aku terbaring lemas di sampingnya, dengan tubuh yang penuh akan keringat dan tenaga yang sudah habis terkuras. Mataku melirik ke arahnya, dia berbaring di sampingku, dengan pandangannya ke arah langit-langit, keringat terlihat sedikit bercucuran dari dahinya, dan nafasnya sedikit berat.
Aku menyentuh tangannya, membuatnya melirik kepadaku, lalu aku menarik tangannya ke dadaku, dimana jantungku dapat terasa masih berdetak dengan cepat. Dia menatapku penuh tanya, sambil tersenyum lembut.
"Semua salahmu, Ghaida." Aku tertawa pelan.
Pada saat itu, aku sekejap melihat wajahnya berubah, hanya sekejap, namun aku menyadarinya bahwa ekspresinya sempat berubah.
Dahinya sedikit berkedut, senyumannya sempat menghilang, dan rasa bersalah terlihat sangat jelas walau hanya sedetik.
Pada saat aku melihat itulah, aku semakin bertanya-tanya. Dan kali ini aku ingin tahu, karena sudah berapa kali dia menunjukkan wajah bersalah di depanku. Mengapa dia merasa seperti itu? Apa yang sudah dia perbuat hingga dia terus menunjukkan ekspresi seperti itu?
Mataku tertutup, membiarkan tangannya berada di dadaku. Rasa lelah akhirnya menderaku, aku memutuskan untuk membiarkan semua pertanyaan-pertanyaan itu untuk nanti, seluruh diriku saat ini membutuhkan istirahat karena aku baru saja merasakan gejolak birahiku memuncak dan dunia terasa berputar.
Entah aku sempat tertidur atau tidak, yang kurasakan, tak lama setelah aku menutup mata, aku dapat merasakan keberadaanya menghilang, tapi aku sama sekali tak dapat merasakannya beranjak dari kasur.
Perlahan mataku terbuka, aku menggeram dan melihat ke sampingku, dan benar saja, aku tidak melihat dia dimana pun. Aku mulai beranjak dari kasurnya dan melihat sekitarku, aku tidak melihatnya dimanapun.
Aku mengambil kemeja yang kutemukan dilantai dan memakainya, lalu berjalan ke kamar mandi untuk mencarinya, namun dia tidak ada disana. Lalu sebuah pemikiran muncul secara tiba-tiba di kepalaku.
Ruangan terkunci itu.
Entah kenapa instingku mengatakan bahwa dia sedang berada di sekitar ruangan itu. Kakiku dengan pelan membawaku keluar dari kamarnya, berusaha untuk tidak membuat suara sama sekali.
Sambil menelan ludah, aku berjalan mendekati ruangan yang penuh akan misteri itu. Semakin aku mendekati ruangan itu, aku dapat mendengar suara orang yang sedang berbicara, namun pelan, aku menduga itu adalah suara Ghaida.
Mataku mendapati bahwa pintu ruangan itu terbuka, aku berdiri tepat di samping pintu itu dan berusaha untuk menguping suara yang berada di dalam kamar itu dan tetap tersembunyi.
Kali ini aku dapat mendengarkan suara-suaranya dengan jelas.
Suara tangisan.
Mataku terbelalak mendengar suara tangisan Ghaida, aku tidak menyangka, orang sedingin Ghaida saat ini sedang menangis. Ghaida yang terlihat sangat tegar dan kuat itu, pada detik ini sedang menangis.
"Apa yang sudah kulakukan...?" Aku dengar dia berkata sambil menangis terisak-isak.
Alisku naik satu mendengar ini, semakin penasaran akan keadaan dia. Aku memutuskan untuk terus menguping untuk mengetahui lebih lanjut, karena rasa penasaran yang sudah menderaku.
"Kenapa...? Kenapa...?" Ujarnya lagi, dengan suara yang serak dan penuh akan perasaan yang kelam, aku mengerutkan dahiku.
"Mengapa aku....bercinta dengannya...?" Kata-katanya selanjutnya membuat mataku terbelalak, "....dia, yang sudah kubuat yatim piatu dan tidak memiliki apapun karena aku yang membunuh keluarganya,"
Apa?
Tunggu dulu, apa?
Dia....dia yang...?
Aku hendak memasuki ruangan itu, namun terhenti seketika. Saat aku dapat melihat ruangan macam apa Ghaida berada, aku nyaris mengeluarkan isi perutku.
Hidungku dapat mencium bau yang mampu membuat isi perutku berada di ujung tenggorokkan, mataku dapat melihat ruangan itu, dinding dan lantai yang penuh akan darah yang telah lama mengering, warnanya merah tua, nyaris berwarna hitam. Kasur dan berbagai funitur yang ada di ruangan itu tak luput dari apa yang sepertinya cipratan-cipratan darah itu.
Ruangan terkunci itu terlihat seperti ruangan pembantaian.
Aku terjatuh di lantai dan berteriak karena sangat terkejut akan pemandangan yang sangat menjijikan yang ada di depan mataku. Lalu sosok yang berada di tengah ruangan itu dengan sangat cepat menengok ke arahku, aku menutup mulutku dengan kedua tanganku.
Mata Ghaida terbelalak ketika dia melihatku terduduk tepat di depan ruangan misteriusnya. Ketika mulutnya terbuka, hendak berkata sesuatu, instingku membuatku berdiri secepatnya dan berlari menjauhi ruangan itu.
"Ikey!" Aku mendengarnya berteriak, pertama kalinya aku mendengarnya mengeluarkan suara sekencang itu.
Jantungku berdegup kencang, rasa takut dan amarah yang sangat besar menghantuiku.
Dia pembunuh orang tuaku.
Dia yang membuatku kehilangan segalanya.
Dia yang membuatku mau tidak mau menjajakan tubuhku.
Dia, Ghaida Farisya.
....Yang sudah membuatku jatuh cinta padanya.
Air mata mengalir dengan derasnya di pipi. Aku tidak ingin mempercayainya, aku ingin bangun dari mimpi buruk ini.
Aku dapat merasakan pergelangan tanganku di genggam, dan ditarik olehnya. Aku meronta dan mencoba untuk melepaskan genggamannya, aku ingin kabur jauh darinya, aku takut, aku merasa sangat takut.
"Ikey!! Aku--"
"DIAM KAU PEMBUNUH!" Aku berteriak sekencang-kencangnya diantara isak tangis yang tak tertahankan.
Ghaida menunjukkan ekspresi tersakiti, kata-kataku tentunya akan membuat perasaannya seperti layaknya roller coaster. Setelah berteriak sekencang itu, aku merintih dan tetap mencoba menarik tanganku, namun genggamannya tak berkutik sama sekali, dia jauh lebih kuat dariku.
Apa dia akan membunuhku juga?
"Apa kamu akan membunuhku juga...?" Dan kata-kata itupun terlontar dari mulutku dengan suara yang serak.
"Tidak--"
"Kenapa tidak sekalian bunuh aku...? Kamu mampu membunuh keluargaku kan...?" Kata-kataku terkesan berani, namun nada suaraku menunjukkan berapa besarnya ketakutanku padanya, suaraku gemetar layaknya seluruh tubuhku yang gemetar karena rasa takut yang amat besar.
"A...Aku--"
"KENAPA GHAIDA??"
"KARENA ORANG TUAMU LAH YANG MEMBUNUH SELURUH KELUARGAKU!!" Suaranya menggelegar ke seluruh pelosok rumah.
Semua suaraku tertelan, isak tangisku terhenti, mataku dan mulutku terbuka lebar, otakku tak mampu mengerti apa yang baru saja dia katakan.
"Kamu tidak tahu siapa orang tuamu sebenarnya?" Matanya menajam, tatapannya dingin dan rasa benci dapat terlihat dengan sangat jelas di wajahnya.
Aku terdiam, tak mampu berkata-kata, otakku masih tak mampu menerima apa yang baru saja dia katakan.
"Orang tuamu adalah antek-antek keluarga Winarto, musuh besar dari majikanku; Keluarga Tanumihardja!"
Semua perasaan menjadi campur aduk, aku tetap terdiam karena benar-benar tidak tahu apa yang dapat aku katakan, karena aku sendiri tidak tahu-menahu sama sekali mengenai siapa sebenarnya orang tuaku, dan siapa itu Keluarga Winarto maupun Keluarga Tanumihardja.
"Namaku Ghaida Farisya.....Kepala keamanan keluarga Tanumihardja, salah satu keluarga mafia terkuat di negara ini. Dan orang tuamu, adalah musuhku dan majikanku, dan orang tuamu, sudah membunuh keluargaku karena keberadaanku dianggap 'berbahaya' oleh orang tuamu; antek Keluarga Winarto." Ujarnya dengan sangat dingin dan penuh akan benci.
"Kamu lihat ruangan itu? Itu kamar asliku, dan keluargaku dibunuh di depan mataku di dalam kamar itu. Seluruh noda yang kau liat adalah bagian-bagian dari keluargaku." Geramnya sambil melepaskan genggamannya dari pergelangan tanganku, aku bisa saja lari, tetapi tubuhku tak dapat digerakkan, perasaan shock masih menyerangku dengan sangat hebat.
Tatapan dinginnya seketika menghilang, air mata mengalir dengan derasnya di pipinya, dan diapun kemudian terduduk diatas lantai.
"....Maafkan aku...Ikey...aku membuatmu seperti ini....." suaranya sangat kecil, dan kata-katanya terpotong-potong karena isak tangisnya.
Ghaida terlihat sangat lemah dan rentan saat ini.
"Aku....aku merasa bersalah kepadamu, Ikey....walau benar aku....membunuh orang tuamu dengan seluruh kebencian." Tangisnya menjadi semakin kencang, dan aku masih tidak bergerak se-sentipun.
"Aku...ketika aku mengetahui bahwa kamu....selalu berdiri di pojokan jalan.......seketika itu juga aku merasa bersalah, karena kamu tidak seharusnya menjadi seperti itu, dan aku sama saja seperti orang tuamu, pembunuh yang membuat satu orang sangat tersakiti."
"Semakin lama.....aku membuntutimu, semakin aku merasa semua yang kulakukan salah. Dan aku ingin mengubahnya."
"Dengan menyewaku...?" Tanyaku, dengan nada yang datar.
"Dengan memberikanmu semua yang sudah kurebut."
"Kamu tidak bisa mengembalikan keluargaku, Ghaida."
"Kamu juga tidak bisa memberikan keluargaku kembali."
Aku terdiam.
Air mata kembali mengalir di pipiku.
Aku ingin marah, aku ingin memukulnya, tetapi semua perkataannya membuatku tidak bisa melakukannya, karena di dalam hatiku aku tahu, semua ini berawal dari orang tuaku, bukan dari dia.
Dia lah yang pertama kehilangan segalanya.
Bukan cuma jiwaku yang terluka, tetapi dia juga, dan lukanya jauh lebih besar dariku. Dia merasakan darah di kulitnya, dia melihat sendiri ajal keluarganya di depan matanya.
Sedangkan aku, aku tidak tahu apapun mengenai orang tuaku, aku tidak tahu apa yang pernah mereka perbuat, bahkan aku tidak ada ditempat ketika rumahku dibumi hanguskan
karena aku sedang berada ditempat lain.
Aku terduduk di depannya, air mata sama-sama membanjiri mata kami dengan sangat derasnya. Semua rasa amarah menghilang, aku bahkan tidak mampu membencinya akan apa yang telah dia perbuat.
"Ikey....asal kau tahu....siapapun orang tuamu, aku tetap tidak bisa menghentikan diri dari jatuh cinta denganmu...Semenjak dari hari-hari aku membuntutimu, perlahan aku jatuh cinta padamu...."
Kedua tanganku meraihnya, lalu aku menenggelamkan wajahku di pundaknya. Aku mungkin tetap memiliki rasa benci karena tindakannya, tapi sama seperti dia, aku tetap tidak bisa menghentikan diri dari jatuh cinta dengannya, bukanlah sebuah kebohongan belaka ketika seluruh tubuhku bereaksi padanya, bukanlah kebohongan ketika aku merasa sangat menginginkannya.
Aku menjauhkan wajahku dari pundaknya dan membenturkan bibirku dengan bibirnya, seluruh rasa pasrah, rasa bersalah, frustasi, putus asa, tertuang di dalam ciumanku yang sangat basah akibat air mata kami berdua.
Dia menjauhkan bibirnya kemudian menatapku, "Tinggal lah bersamaku, aku ingin setidaknya membayar sebagian dari apa yang sudah kuambil darimu."
Dia membutuhkanku.
Dan aku juga membutuhkannya.
Simbiosis mutualisme antara dua jiwa yang terluka.
Ya, mungkin kita terlihat seperti itu, dan aku tidak tahu apakah perasaan ini ada karena perasaan layaknya saling menjilati luka, tetapi aku tahu dengan pasti kalau aku membutuhkannya, dan apapun yang sudah dia lakukan, aku tidak mampu meninggalkannya, karena perasaanku yang sudah menempel dengannya.
Aku mengangguk pelan terhadap pertanyaannya.
Dia menempelkan dahinya di dahiku, dan kita berdua berbisik bersama; "Maafkan aku."
....Mungkin kami memang sedang saling menjilati luka kami.
Tapi tak apa.
Mungkin kami adalah dua jiwa terluka yang saling membutuhkan masing-masing agar luka kami dapat sembuh suatu hari.
Entah dalam waktu berapa lama.
THE END
A/N: Here's a bonus:
Aku mendengar suara pintu depan terbuka, aku dengan segara berjalan kearah pintu depan. Aku dapat melihat dua sosok di sana, Ghaida dan....aku tidak mengenal orang itu. Orang itu memiliki luka dan memar di wajahnya, dan kemeja yang dia kenakan terdapat banyak bercak darah.
Melihat itu membuat satu alisku naik karena bingung.
Ghaida membopong orang itu dan membuatnya terduduk di sofa terdekat.....dengan kasar, orang itu menggeram kesakitan.
"Ghaida!" Aku menegurnya.
"Biarkan saja jahanam ini." Ujarnya dingin.
"Hey hey Ghaida Farisya, kita akan serumah, jangan galak-galak." Ucap orang itu sambil mengerang kesakitan dan memegang dadanya, dimana darah terlihat sangat banyak.
"Tunggu, serumah?" Aku menatap ke arah gadis berambut pendek itu, "Ghaida.....?"
".....Anggap saja dia pegawai baru di bagian keamanan." Ujarnya sambil menatap dengan sangat tajam orang itu.
"Halo...uhm...temannya, Ghaida Farisya, aku Devi Kinal Putri."
--
See y'all on my next fanfiction!
The Best JKT48 fanfiction I have ever read! You're good!
ReplyDeleteBisa dibuat kelanjutannya StellaxKinalxVeranda nih! Universenya juga sudah mendukung. Tanumihardja Versus Winarto (half true in their real li** #badsignal sigh!) Pasti menarik!
Keren bgttttt, req tongolin frieska & stella dong di lanjutannya :D
ReplyDeletehahahhahaaa...hadeuuhh...ajib euy ceritanya...tp gw paling suka tuh yg crt kinal sama ve...simple tp kyk crt bnrn tauk hehehe..pokona mah di tgu cerita2 selanjutnya yee...pasangan2 member mgkn selanjutnya beby sama shanju ato ato sapa aja sih yg keliatan deket tuh
ReplyDeleteditunggu kelanjutannya kakk...
ReplyDeleteini ga ada terusannya lagi ?
ReplyDeletetulisannya bagus min..
ReplyDeleteditunggu ya ff lainnya,terutama yg ve ma kinalnya .....
Gue sukaaa sama semua ff disini kak (y)
ReplyDeleteLANJUTIN DONG, ya..yaa??
Request Melody x Nabilah yaah kak hehe :)
ni authornya kmna??? update dong....
ReplyDeleteCeritanya bagus!! Keren dah!! Feelingnya dapet banget!! update lagi donkk... Munculin yang lain juga... Authornya hiatus lama banget!!
ReplyDeleteapa cuma gue yg bolak2 balik ke blog ini dan mengharap authornya udh update, meskipun gue tau authornya udh lama gak update?
ReplyDeleteini authornya udh pindah blog/emang udh gak buat ff lg?
kalau udh pindah blog ksh tau linknya donk...
Saya tidak pindah blog, dan tidak juga gak buat ff lagi.
DeleteCuma saya sudah pindah fandom sekarang, saya bikin ff untuk fandom yang lain.
Mohon maaf, karena saya tidak update-update lagi, saya sedang hiatus super panjang :(