Tuesday, January 14, 2014

In Love With Your Enemy

WARNING, This fanfiction contains adult material.


".....Mengerti?"

"....Ya."

"Jika kau gagal, jangan pernah kembali kemari."


--

Tumpukan buku terjatuh ke atas lantai, geraman keluar dari bibirku sebelum aku menunduk dan mengambil buku-buku yang jatuh tersebut. Kemudian aku mengembalikan buku-buku itu diatas meja sambil bergumam, merasa sedikit kesal.

Ah, sungguh merepotkan.

Kuambil kemoceng yang berada di atas meja dan melanjutkan untuk membersihkan meja tersebut, sebelum aku lanjutkan dengan membersihkan rak-rak buku yang banyak di dalam ruangan itu, geraman kembali keluar dari antara bibirku.

"Oh, masih belum bersih?"

Tubuhku bergidik mendengar suara itu, aku menoleh ke belakang secara perlahan, dapat kulihat sebuah sosok yang sungguh menawan berdiri di pintu masuk. Rambutnya panjang se-pinggang, wajahnya oval dengan pipi yang sangat menggemaskan, kulitnya putih pucat layaknya seseorang yang sangat jarang bermandikan sinar matahari.

Jessica Veranda dari keluarga Tanumihardja, berdiri dengan anggunnya di depanku.

"A-Ah.....nona Veranda." Ujarku dengan gugupnya, aku sedikit menelan ludahku.

"Astaga..." Dia berjalan mendekatiku, lalu mendekatkan wajahnya dengan sangat menggoda, "Kamu kan laki-laki, lebih cepat sedikit tidak bisa, hai anak baru?"

Aku sedikit menahan tawa.

"...Ba...Baiklah, nona." Ujarku sambil menggigit bibir bawahku untuk menahan diri, lalu kulihatnya memasang sebuah senyum sinis sebelum membalikan badannya dan berjalan keluar dari ruangan itu. Ketika dia sudah keluar dari jarak pandangku, aku tertawa.

'Laki-laki'...ya?

"Keluargaku memang kurang ajar." Bisikku dengan pahit, tanganku menyentuh rambutku pendekku, yang sebenarnya adalah sebuah wig. Lalu kutatap diriku sendiri, untuk melihat sebuah celana bahan hitam, kemeja putih, jas hitam, dan dasi tali, layaknya seorang butler.

Namaku Devi Kinal Putri, aku adalah seorang wanita tulen yang kini sedang menyamar menjadi seorang laki-laki. Ada alasannya mengapa aku menyamar seperti ini.

Karena keluargaku.

Keluargaku bukanlah sembarang keluarga, keluargaku secara turun-temurun terlatih untuk menjadi seorang 'Pembunuh Bayaran'. Kami bukanlah pembunuh bayaran biasa, kami elit, cara kami bersih dan tidak akan bisa terdeteksi. Dan di keluargaku, kegagalan itu tidak ada, jadi semua nya harus berhasil dan berjalan dengan lancar.

Jika gagal.....maka semuanya berakhir.

Kali ini akulah yang ditugaskan untuk melakukan 'pekerjaan' keluargaku, karena terdapat target yang harus kumusnahkan disini, itulah mengapa aku menyusup kemari, dan aku diberikan identitas baru agar dapat menyusup kemari tanpa diketahui siapa jati diriku sebenarnya.

Nama 'laki-lakiku' adalah Devon Putra.

Sesungguhnya aku tidak tertarik dengan 'pekerjaan' ini, aku merasa bahwa ini tidak ada gunanya, dan aku tidak ingin mencabut nyawa seseorang yang tidak memiliki dosa terhadapku. Namun aku harus meneruskannya, aku harus menjaga 'tradisi' dari keluargaku yang begitu sakral, entah apa ini dapat disebut sakral.

Aku menghela nafasku lalu kembali merapikan ruangan itu agar bersih dari debu-debu yang sudah menumpuk.

Setelah aku selesai, akupun berjalan keluar dari ruangan itu dan berjalan menuju kamar nona Veranda, anak dari majikanku saat ini.

Di kamarnya, aku dapat melihat sebuah ruangan yang kosong, pada awalnya aku merasa bingung karena biasanya nona Veranda berada di dalam kamarnya. Tak lama dapat kudengar suara-suara dari kamar mandi, satu alisku naik.

"Nona Veranda tumben mandi jam segini...?" Gumamku sambil berjalan secara perlahan dan berusaha untuk tidak membuat suara sekecil apapun. Ketika aku sampai persis di depan pintu kamar mandinya, aku membuka dengan sangat hati-hati agar tidak diketahui olehnya.

Ketika pintu itu sedikit terbuka dan aku dapat mengintip ke dalam, mataku terbelalak ketika sebuah suara merasuki telingaku.

"Uhm...ahh..." Dapat kudengar sebuah erangan lembut dari dalam.

Bulu kudukku seketika berdiri, darah berdesir hebat di wajahku, sesaat jantungku berhenti.

A...Apa yang...?

Karena rasa penasaran yang menjadi, akupun mengintip kedalam, mencoba mencari asal dari suara tersebut. Mataku kembali terbelalak ketika aku akhirnya mengtahui asal dari erangan itu.

Aku dapat melihat nona Veranda berbaring di dalam bathtubnya, tubuh tanpa sehelai kain, kulit yang basah akan air. Dapat kulihat bibirnya sedikit terbuka, dan berbagai erangan-erangan lembut lari dari antara bibirnya yang kecil itu.

Aku menelan ludah ketika kusadari ada yang aneh dengan gesture tangannya. Tangan kirinya meremas dadanya sendiri, dan aku dapat melihat pergerakan-pergerakan mencurigakan dari lengan kanannya.

Apakah dia......?

Aku tak mampu mengalihkan pandanganku, mataku terpaku pada sosok itu. Nafasku semakin berat ketika aku benar-benar memperhatikan bagaimana ekspresinya berubah-berubah karena rasa nikmat yang dirasakannya. Aku menarik nafasku yang berat di setiap erangan lembutnya.

"....Devon......" bisiknya sambil terengah-engah

Jantungku berhenti rasanya.

Aku benar-benar sangat terkejut karena dia membisikan nama samaranku ditengah-tengah.....'itu'.

Aku menelan ludahku kembali, semakin lama aku menatapnya, darahku berdesir semakin hebat, jantungku berdetak sangat cepat, dan nafasku mulai tak terkendali. Mengapa aku merasa seperti ini?

Dengan cepat namun tak bersuara, akupun menutup pintu kamar mandi itu, lalu aku menyandarkan punggungku di pintu itu. Aku tertunduk, wajahku semakin memanas karena masih dapat mendengar erangan-erangan lembutnya. Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku dan mengehela nafas yang panjang, dapat kurasakan kedua tanganku bergetar.

Akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari ruangannya, dan kembali dalam satu jam. Langkah dan nafasku berat, aku tidak dapat melupakan ekspresinya, dan suaranya ketika dia menyebut namaku.

--

Selang satu jam, aku kembali lagi kedalam ruangan itu, aku melihat sosok nona Veranda yang dengan nyamannya terduduk di atas sofanya. Rambutnya masih basah, dan tubuhnya hanya dibaluti bathrobe tanpa apapun di dalamnya, aku sedikit menelan ludah.

"Kamu telat, Devon." Suaranya lembut namun dingin, sangat berbeda dari suara yang aku dengar sejam yang lalu.

Tidak mungkin aku muncul di depan matamu saat kau sedang merasakan kenikmatan dari diri sendiri kan?

Tentunya aku tidak mungkin berkata demikian di depannya.

"....Maaf nona."

Dia menatapku dari atas sampai kebawah, lalu tersenyum, "...Sudahlah, kesini dan keringkan rambutku." Ujarnya, entah kenapa tersirat nada yang menggoda.

Aku mengambil handuknya dari atas meja, lalu mendekatinya, kemudian aku mulai mengusap rambutnya dengan handuk yang di tanganku dengan perlahan dan selembut mungkin.

Hidungku dapat mencium sebuah wangi yang khas dari rambutnya, wangi yang lembut, ringan, namun elegan.

Bibirku tersungging sebuah senyuman tanpa kusadari.

Tapi sebuah pikiran membuat dahiku mengernyit, rahangku mengencang.

Dia kan, targetku.

Aku mengigit bibir bawahku, wajahku penuh akan rasa bersalah dan kesal. Aku sungguh tidak ingin melukai gadis ini.

Mungkin tanganku sudah pernah terkotori, mungkin tanganku sudah pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi malaikat hitam pencabut nyawa, tetapi entah mengapa aku tidak ingin melukai gadis ini sama sekali, menyentuhnya pun sudah membuat kulitku merinding, melukainya adalah sesuatu hal yang sangat tidak ingin kulakukan.

Kuterus bertanya kepada diriku, mengapa gadis ini? Mengapa aku tidak mampu melukainya? Mengapa kuharus melukainya?

Keluargaku terus bertanya-tanya padaku, kapan aku melaksanakan tugasku, karena aku berada di 'tempat kerja' lebih lama dari biasanya. Bagaimanapun rencanaku, aku tidak mampu melaksanakannya, dia mungkin dingin kepadaku, tetapi hatiku meleleh di hadapannya.

Aku jatuh cinta kepada musuhku.

"Devon."

Aku tersadar dari pikiranku, kutatap gadis yang ada dihadapanku itu, "...Ya, nona?"

Mataku terbelalak ketika dia genggam blazerku dan menarikku kebawah, membuat wajahku sangat, sangat dekat dengan wajahnya, wajahku memanas. Dia menatapku dengan sangat menggoda, kedua tangannya perlahan menyentuh pipiku, kemudian mengusapnya dengan sangat lembut, kulit pipiku terasa membara dibawah usapannya.

Dapat kurasakan nafasnya yang panas, aku menyadari bahwa nafasnya berat, dan matanyapun mulai menjadi sayu. Perlahan aku mendekatkan wajahku kepadanya, dan sedikit memiringkan kepalaku, ketika aku melihatnya menutup matanya, akupun menutup mataku dan menenggelamkan bibirku di bibirnya.

Tangan yang berada di pipiku melingkar di leherku dan menarik tubuhku kepadanya, dengan kedua tanganku, aku menggenggam kedua pundaknya dan perlahan mendorongnya keatas sofa, tubuhnya pasrah dan mengikuti kemauanku.

Jantungku berdebar, seluruh tubuhku memanas, semua perasaanku tumpah pada momen itu, aku merasa diriku yang lain keluar. Kuperdalam bibirku, kukulum dan kuhisap dengan perlahan, kudapat merasakan erangannya di dalam mulutku, duniaku mulai terasa gelap, aku mulai kehilangan akalku.

Aku menjauhkan bibirku, lalu kutatap dia yang terbaring dibawahku, bathrobenya sedikit terbuka, menunjukkan kulitnya yang lembut dan masih lembab itu. Rambutnya terurai secara liar diatas sofa, wajahnya memerah dan nafasnya tersengal-sengal, nafasku tertahan melihat pemandangan ini. Kecantikannya sungguh menakjubkan, layaknya seorang dewi, menawan, sempurna tanpa celah.

Matanya terbuka perlahan, dia menatapku dengan sayu dan penuh akan gejolak birahi. Tangannya menjamah blazerku dan mulai membuka kancing-kancingnya, lalu dia melepaskan blazerku dan melemparnya entah kemana.

Tangannya kemudian menyentuh dadaku dan mengusapnya, tubuhku bergidik dan aku sedikit panik, aku baru saja menyadari bahwa aku adalah 'Devon' disini, dan aku adalah laki-laki. Dia menaikkan satu alisnya ketika menyadari bahwa aku sedikit panik, lalu dengan cepat membuka kemejaku, aku membelalakkan mataku, suaraku tertelan.

Dia menatap kearah dadaku yang dibaluti oleh perban, aku mengalihkan pandanganku, takut untuk menatapnya.

Kumendengar suara tawa kecil, "...Sudah kuduga, kamu perempuan."

Apa?

Aku memberanikan diri untuk menatapnya, wajahku penuh akan tanya. Dia tersenyum nakal lalu menarik wajahku kepadanya, aku dapat merasakan nafasnya di telinga kananku.

"Aku cuma bisa jatuh cinta pada perempuan, apa kau tahu itu?" Bisiknya dengan sangat menggoda, bulu kudukku berdiri, telingaku terasa panas, tanpa kusadari aku menelan ludahku.

Aku menarik diriku dan kembali menatapnya dengan tatapan terkejut, dia memberikanku sebuah senyuman yang sangat menggoda sebelum tangannya menjamahi kulitku, sebuah desahan lembut keluar dari bibirku, tak mampu menahan rasa sentuhannya yang nikmat.

"Siapa namamu sebenarnya?" Tanyanya pelan, sambil terus menyentuh kulitku yang tak terlindungi baju.

"Mmm.....ah....Kinal....." Ucapku disela desahan-desahanku.

"Nama yang manis..." Dia berhenti menjamahiku dan mengenggam bathrobenya sendiri, tatapannya seakan mengatakan untuk melepas sehelai kain yang melekat di tubuhnya itu, akupun melakukan apa yang dia mau.

Darahku kembali berdesir ketika kumelihat seluruh kulitnya terbuka tanpa ada yang menghalanginya di depan mataku, kemudian kulemparkan bathrobenya itu ke atas lantai. Diapun mulai melepaskan kemejaku, dan mulai melepas celanaku, nafasku kembali tertahan.

Perlahan dia menarik tubuhku diatasnya, kulit dan kulit bertemu langsung. Jantung dan pikiranku sudah tak dapat terkendali lagi, rasa panas mendera tubuhku dengan sangat.

Akhirnya akupun memutuskan untuk melepas wigku, dia memberikan tatapan senang ketika melihat rambut asliku jatuh dengan bebasnya.

Aku menunduk dan menenggelamkan bibirku lagi, dapat kurasakan tangannya berada di belakang kepalaku dan sedikit menjambak rambutku, aku merespon dengan menggeram kecil di dalam mulutnya.

Cumbuan kami memanas, kami mulai mempercepat gerakan kami, kami semakin menggila di setiap detiknya. Aku memasukkan lidahku kedalam mulutnya, ingin menguasai dirinya.

Veranda mendesah kuat di dalam mulutku dan menarik-narik rambutku.

Aku melepaskan bibirnya dan mulai menciumi lehernya, desahannya mulai menjadi hebat.

"Ki...Kinal...!"

Adalah ketika dia menyebut namaku aku benar-benar mulai gila. Aku menghisap dan menggigit lehernya tanpa ampun, dan tanganku dengan cepat menjamahi seluruh tubuhnya, sebelum berhenti di dadanya dan mulai memainkan dadanya, tubuhnya menggelinjang di bawahku.

Bibirku menelusuri tubuhnya kebawah, sampai ke dadanya. Ketika aku mulai menciumi dadanya, dia sedikit meneriakkan namaku, nama asliku. Mendengarnya membuatku merinding, muncul rasa panas di dada.


"Ve...." Bisikku dengan penuh nafsu birahi, lalu aku pun menghisap ujung itu dan menjilatinya, menikmati rasa manis kulitnya.

"Ki..Kinal...cepat...."

"Cepat...mm...apa...?" Tanyaku sambil menjilatinya, dia terlihat mencoba menahan suara-suaranya.

"Aku.....sudah tidak tahan...."

Pikiranku menjadi gelap. Dengan nafasku yang sangat berat, aku mulai menelusuri tubuhnya dengan tangan kananku, lalu perlahan tanganku itu menelusuri ke bagian privatnya, tubuhnya bergidik.

Mataku menatapnya dengan tajam ketika aku mulai mengusap bagian privatnya, aku melihat ekspresi wajahnya yang penuh akan kenikmatan, bibirnya yang mendesah kencang, dan tubuhnya yang tak hentinya menggelinjang karena sentuhanku, aku menjilati bibirku sendiri.

Tanpa menunggu lagi akupun memasukkan satu jariku kedalamnya, seketika dia meneriakkan namaku sambil mendesah. Aku mulai menggerakan jariku perlahan, takut karena merasa tubuhnya itu bagaikan gelas kaca yang rentan dan mudah untuk pecah.

Jemarinya mencakar punggungku karena rasa nikmat yang tidak kentara, lalu dia sempat terdiam karena merasa bersalah sudah mencakarku, lalu aku pun berbisik kepadanya,

"Tidak apa-apa....Ve....." Dia memelukku se erat-eratnya dan kembali mencakar-cakar punggungku, aku sedikit mengerang, entah karena kesakitan atau penuh nikmat.

Veranda mulai memanggil namaku tanpa henti, tanda bahwa birahinya mulai memuncak. Akupun mempercepat gerakan jariku, ingin membuatnya merasa lebih nikmat lagi. Nafasnya mulai tersengal-sengal, tubuhnya menggeliat dan wajahnya memiliki ekspresi sangat seksi yang penuh akan kenikmatan.

Ketika dia meneriakkan namaku sangat kencang, aku mengetahui bahwa dia telah mencapai klimaksnya, akupun perlahan menghentikan gerakan jariku.

Aku menempelkan dahiku ke dahinya, nafasku berat dan sedikit tersengal-sengal. Veranda membuka matanya dan menatapku lurus kedalam mataku, mulutnya sedikit terbuka karena nafasnya masih tidak beraturan, wajahnya masih terlihat memerah.

"Aku....menyukaimu, Ve."

Veranda sedikit tertawa, lalu dia mengecup bibirku, sebuah senyuman lembut muncul di bibirnya, matanya menyatakan 'aku juga'.

Lalu seiring berjalannya waktu, nafas kami kembali normal, dan mata kami menutup pelan.

--

Mataku terbuka dengan sekejap karena telingaku mendapatkan beberapa suara mencurigakan di dalam ruangan ini. Aku terduduk diatas sofa itu dan mataku menatap figur yang berdiri di depanku.

Sial.

"Halo, Devi Kinal Putri." Ujar seorang gadis maskulin yang memiliki rambut pendek.

Ghaida Farisya, kepala keamanan keluarga Tanumihardja. Dia adalah kepala keamanan yang sangat handal, karena dibawah naungannya, apapun dijamin aman tanpa celah. Kukira aku mampu mengelabuinya, tapi ternyata identitasku tak luput juga darinya.

Sial, tak kusangka jati diriku bisa ketahuan secepat ini, memang sang Ghaida Farisya itu mengerikan.

"Tak hanya kau berniat untuk membunuh nona Veranda, tetapi kau juga menidurinya? Hina." Ujarnya dingin, sambil menatap sosok yang masih tertidur di sofa itu.

Dengan sigap aku segera memakai celanaku dan mengenakan kemejaku dan blazer, namun tidak kukancingi. Kutatap sosok yang ada di depanku dengan sangat tajam, merasa waswas akan apa yang dia akan lakukan.

Aku sedikit terkejut ketika dia sudah menghunuskan sebuah Tanto tepat 1cm di depan leherku, aku menelan ludah. Karena tak mau kalah, aku menggenggam pergelangan tangannya dan melempar lengannya kesamping, lalu aku melakukan backflip ke belakang sofa.

Lalu dia berlari dan melakukan jump kick, aku menyilangkan kedua lenganku untuk menangkisnya, pada saat kakinya menyentuhku, aku sedikit terpelanting ke belakang, namun aku tidak terjatuh. Dia mendarat kelantai tanpa suara, mataku terbelalak melihat ini.

"Aku tidak mau membangunkan nona Veranda, Kinal, jadi bisakah kita lakukan ini dengan tenang?" Bisiknya dengan tatapan yang sangat tajam.

"Tenang? Kepalanku akan menenangkanmu." Lalu aku melancarkan sebuah pukulan ke wajahnya, dengan satu tangan dia menangkis seranganku, lalu dengan tangannya yang satu lagi, dia menyayat dadaku yang terekspos dengan Tantonya, aku sedikit menggeram.

Aku dapat merasakan sebuah rasa sakit di dadaku dan rasa bahwa darahku mengalir deras, namun aku mencoba untuk melupakan itu dan melanjutkan seranganku padanya. Dengan cepat aku memegang pergelangan tangannya, memutar badanku dan menyandarkan punggungku di depannya, lalu membantingnya dengan keras ke lantai, dia mengerang kesakitan.

Pada saat ini aku dapat melihat dari ujung mataku kalau Veranda terbangun dan terlihat sangat terkejut dengan apa yang dia liat.

Ketika kumenoleh kepadanya, hendak berteriak untuk lari, Ghaida melancarkan serangannya. Dia menendang perutku dengan lututnya. Aku terbatuk keras dan menunduk,  lalu dengan kakinya dia menendang sisi kiri dari wajahku, aku terpelanting ke lantai dengan sangat kasar.

Veranda berteriak kearah gadis maskulin itu, "GHAIDA!!! Apa yang---"

"Nona!! Diam disitu, dia ini berbahaya!"

"Berbahaya?? Apa maksudnya--"

"Dia ini pembunuh bayaran, nona! Kau targetnya!"

Sial.

Sial. Sial. Sial.

"Tunggu!! Aku tidak--"

"DIAM!!" Gadis maskulin itu mendiamkanku dengan sebuah tendangan keras dibagian ulu hati, aku terbatuk dengan sangat keras dan mengerang sangat kencang karena rasa sakit yang luar biasa.

Lalu akhirnya pandanganku pun menjadi hitam sebelum aku dapat melihat wajah Veranda.

--

"Bangun!! Makhluk hina!"

Aku dapat merasakan siraman air ditubuhku, aku terbangun dengan sekejap, lalu tak lama mengerang kesakitan, luka besar yang ada di dadaku terasa sangat perih.

"Sakit bukan? Barusan itu air garam loh." Aku dapat mendengar sebuah tawa yang sangat sinis. Aku mencoba untuk bergerak, namun aku menyadari bahwa kaki dan tangannku dirantai ke tembok. Sepertinya aku berada di sel tahanan atau semacamnya.

Dengan pandangan yang buram, aku mencoba untuk melihatku kedepan, aku sedikit mengenali sosok yang berada di depanku; si brengsek Ghaida Farisya. Aku menggeram karena rasa amarah yang sudah memuncak.

Sebuah pukulan mendarat di perutku, aku kembali mengerang, "Siapa yang membayarmu, hah?" Tanyanya.

"Bukan urusanmu, brengsek." Geramku, nafasku mulai berat.

"Anjing kampung." Dia menendang daerah privatku, walau aku tidak mempunyai apa yang laki-laki punya, namun rasanya tetap sangat menyakitkan.

"Siapa. Yang. Membayarmu?"

Aku meludahinya, lalu dia menatapku dengan tatapan yang sangat mengintimidasi dan tajam, dia mengelap wajahnya dengan lengan blazernya.

"Hoo..." Lalu dia memukul wajahku dan menendang bagian luka besar yang ada di dadaku, aku berteriak dengan sangat kencang.

"Bangsat kau!!" Teriakku dengan penuh amarah dan rasa sakit.

Gadis itu menjambak rambutku dan menarik wajahku agar dapat mendekati wajahnya, dapat kulihat dia mengepalkan tangannya yang satu lagi, hendak memukulku, namun aku dapat melihat sebuah sosok menahan tangannya dan menariknya.

Veranda.

"Ghaida, cukup, biarkan aku yang bicara dengannya."

"Tapi nona--"

"Keluar."

".....Baiklah." Ghaida menunduk kearah Veranda sebelum berjalan keluar, sekejap dia menatapku dengan tatapan yang sangat dingin.

Aku mengangkat kepalaku, lalu menatapnya, wajahku penuh akan rasa bersalah.

"Apa....itu benar?"

Tubuhku bergidik, mataku tak mampu memandangnya, lalu aku mengangguk pelan.

"Aku targetnya?"

Aku mengangguk kembali, sambil menggigit bibir bawahku. Lalu aku mengangkat kepalaku dan berkata, "Tapi......sejujurnya aku....."

"Seujurnya....?"

"Aku...tidak mau Ve, aku tidak mau. Aku tidak bisa membawa diriku untuk melaksanakan tugasku, aku........" Aku menelan ludahku, "Jatuh cinta padamu."

"Jadi....kamu tidak ada niatan untuk membunuhku?"

".....Tidak ada, bahkan aku berniat untuk meninggalkan keluargaku, demi kamu, aku tidak ingin melukaimu."

Dia terdiam, lalu menatapku dengan tajam, "....Ya, aku sudah dengar tentang keluargamu dari Ghaida. Keluargamu turun temurun selalu mendapatkan tugas untuk membunuh seorang dari keluargaku, itulah mengapa Ghaida sangat kasar padamu."

"Ah...aku--" Dia mendiamkanku dengan meletakkan jari telunjuknya di depan bibirku.

"Aku mau bertanya, jika kau tidak melaksanakan tugasmu, apa yang akan terjadi?"

Dahiku mengernyit, ".....Seseorang dari keluargaku akan meneruskan tugasku."

"....Baiklah, aku akan mencoba bernegosiasi dengan keluargaku."

"...Apa?"

"Aku coba untuk menerimamu sebagai partner Ghaida, atau bagian dari keamanan." Dia membalikkan tubuhnya dan perlahan berjalan keluar, lalu dia sedikit menengok kearahku dan memberikanku sebuah senyuman lembut.

"Aku percayakan diriku padamu, karena aku pun sudah terlanjur jatuh cinta padamu."

Sebuah senyuman puas tersungging di bibirku.

Karena rasa lelah yang menderaku, aku menutup mataku dan membiarkan diriku tenggelam di alam tidur.

--

Aku dapat merasakan sebuah kehangatan dan kelembutan di bibirku, aku membuka mataku perlahan untuk melihat siapa yang menciumku. Ketika kusadari bahwa Veranda lah yang minciumiku, akupun menciuminya balik dan dengan perlahan.

Lalu dia menjauhkan bibirnya dariku, aku menatapnya dengan tatapan lemah, sedangkan dia tersenyum lebar kepadaku.

"Kinal....aku berhasil bernegosiasi dengan keluargaku, sangat sulit dan penuh dengan suara bernada tinggi, tapi aku berhasil."

Aku merasa telah menemukan secercah harapan mendengarnya berkata demikian.

"Tapi....yah, kamu tidak bisa terlalu bebas disini, kamu dijadikan sebagai partner Ghaida, dimana berarti Ghaida akan terus berada disebelahmu, karena dia ditugaskan untuk menjagamu, jikalau kamu ada niatan untuk membelot."

"Aku mengerti."

Dia kembali tersenyum sangat lebar, kedua lengannya melingkari tubuhku dan memelukku erat, aku sedikit menahan rasa sakit karena dia menekan luka besar yang ada di dadaku.

Veranda pun berbisik, "Aku tidak ingin berpisah darimu, Kinal."

Aku menenggelamkan wajahku di pundaknya, "....Aku juga, Ve."

Betapa beruntungnya aku, karena tidak dibuang olehnya. Dan betapa beruntungnya aku, karena aku jatuh cinta dengan musuhku, dimana musuhku itu sangat menawan, manis, cantik, dan mencintaiku apa adanya.

Walau keberadaanku disitu adalah karena aku ingin mencabut nyawanya, namun dia masih mau menerimaku, dia masih mau mencintaiku.

Cintailah musuhmu, kan?

THE END

11 comments:

  1. satu" nya yg nyata dri kisah ini mungkin cra bicara ghaida

    ReplyDelete
  2. request cerita doooong! si Kinal selingkuh dari Ve, selingkuhnya sama Shania :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Woiiii #ShaniaBelumLegal wooooiiii

      Delete
    2. ya dicoba dulu bikin, kayaknya seru tuh :))))

      Delete
    3. Selingkuhnya sama Nju? Hmmmm.........

      Delete
    4. Biar real harusnya sama S......... inyalhilang*

      Delete
  3. hahahaa..jgn yg selingkuh2 dl ah..tp yg pasti tetep di tgu ya crt selanjutnya... btw hebat lu yak bs bikin crt sebegini byknya..salut deh..

    ReplyDelete
  4. eh kl ga slh gw pernh denger tuh ve suka cemberut ato cemburu kl liat kinal deket2 sama naomi..nah bs tuh di jadiin crt wkwkwk

    ReplyDelete
  5. Bikin inses melody frieska doooong

    ReplyDelete
  6. sapa lg sih pasangan laennya kn kinal sama ve,ghaida sama dhike ato rica trs sapa lg ya...

    ReplyDelete
  7. Feel nya dapet bangeets deh :D
    gue request Melody x Nabilah dong kak, yaah? Pweeaaseee :3

    ReplyDelete