This is a sequel for KinalxVe fanfic; 'Trapped'.
Pola pikir manusia adalah sesuatu yang sangat kompleks, saking kompleksnya, bahkan sesamanya belum tentu dapat mengerti apa yang sesamanya pikirkan, atau rasakan.
Ekspresi yang biasanya terbentuk dari apa yang hati rasakan belum tentu menjadi penentu pola pikir seperti apa yang dia miliki, ekspresi dapat dibuat.
Banyak yang berkata 'Action speaks louder than words' tapi apakah itu benar? Karena tindakan pun bukan penentu, tindakannya bisa saja hanya akting belaka, tindakannya bisa saja hanyalah sebuah kebohongan belaka.
Bagaimana cara tahu apa yang sesama kita rasakan? Aku tidak tahu jawabannya.
Perlahan mataku terbuka, namun kemudian terbelalak ketika aku sadar bahwa apa yang ingin kulihat tidak ada di depanku. Dengan sekejap aku terduduk diatas kasur, mataku mencari ke sekitarku untuk sebuah sosok yang selalu kudambakan.
Jantungku berdegup kencang karena khawatir ketika kusadar aku hanya sendirian di dalam kamarku. Aku beranjak dari tempat tidurku dan berjalan keluar dari kamarku, kemudian mataku kembali mencari ke sekitarku.
Beberapa menit setelah aku mencoba mencari 'dia' di apartemenku, aku menemukan selembar surat diatas meja makan.
'Aku udah berangkat duluan ya! Hari ini aku ada kuliah pagi.' Adalah apa yang tertulis disurat itu, mataku melirik ke arah jam dinding, saat ini jam 9 pagi.
Lalu aku teringat bahwa pada hari ini aku tidak ada kelas oleh karena dosen yang tidak dapat hadir, aku menghela nafas, bersyukur karena semua doesn mata kuliah hari ini adalah yang galak semua, dan kebetulan mereka semua hari ini tidak hadir.
Akupun terduduk diatas sofaku, aku bersandar dan mendongakkan kepalaku keatas, terdiam.
Terjebak.
Masih, dan apa akan terus seperti ini?
Mataku terpejam untuk mengingat kejadian sebelumnya.
--
Adalah ketika kuterbangun di dalam pelukannya, hatiku berdegup kencang karena bahagia, ditambah karena dapat melihat ekspresi manisnya ketika tertidur.
Tak lama, aku mendengar sebuah erangan lembut, bulu kudukku sedikit berdiri mendengarnya. Mataku langsung menatapnya, melihatnya perlahan membuka matanya yang menawan itu, bibirnya sedikit terbuka, dia pun mulai menguap, betapa lucunya.
"Pagi, Kinal." Ujarku dengan senyuman lebar di bibir, aku merasa bahagia, dan itu semua karena apa yang terjadi di malam sebelumnya.
Kinal....dia menerimaku kan?
"Mm....pagi Veeee......" Ucapnya dengan nada mengantuk, aku tertawa kecil melihat dia seperti ini, imagenya yang gahar dan perkasa hilang seketika.
Karena rasa penasaran dan tidak sabar aku pun mencoba untuk mengkonfirmasikan sesuatu.
"Kinal...aku suka kamu." Ucapku jujur dan berani, merasa percaya diri.
"Hah? Mm...iya iyaaa..........." Tangannya menjulur ke kepalaku, lalu dia mengelusnya dengan sembarangan, dia terlihat masih setengah sadar.
"Ve, maaf ya...." Mataku terbelalak, terkejut karena dia tiba-tiba meminta maaf padaku, apa salahnya?
"Ke...kenapa?"
"Kamu kemaren kesel ya? Karena aku ngerepotin kamu."
Apa?
Aku menatapnya dengan penuh tanya, merasa bingung.
"Kamu sampai nggak mau sekasur gitu sama aku tidurnya, marah ya? ....Tapi maaf ya kemarin kamu aku gendong ke kasur, soalnya aku bisa denger kamu menggigil kedinginan, ACmu kan nyala."
"Ap..."
"Kamu....masih marah sama aku?"
Apa yang sebenarnya Kinal katakan? Aku tidak mengerti sama sekali.
Oh tunggu dulu......jangan bilang.....
"Kinal, kamu mengerti tidak semalam aku kenapa?"
"Kamu marah karena kesel aku ngerepotin kamu, bikin capek kamu gara-gara bantuin aku pindahin barang-barangku yang banyak dan nggak penting kan?"
Ya Tuhan.
"Kinal.....kamu...."
"Ya...?"
Aku membenamkan wajahku kedalam kedua telapak tanganku, aku mengehela nafasku yang panjang ke telapak tanganku, merasa bodoh.
Aku mengira dia mengerti perasaanku, aku mengira dia menerimaku karena reaksinya yang....ambigu, memiliki banyak arti. Dan aku merasa sangat, sangat bodoh karena aku berharap lebih darinya, harusnya aku bisa tahu bahwa dia tidak bermaksud seperti apa yang kuharapkan.
Dia mengira aku marah padanya karena membantu dia memindahkan barang-barangnya yang banyak?
Astaga yang benar saja.
Aku terduduk di atas kasur, tatapanku kosong, hatiku terasa kosong, aku dikhianati oleh sebuah harapan yang aku buat sendiri. Aku memutuskan untuk berdiri, namun karena aku berdiri terlalu cepat, aku sempat kehilangan keseimbangan. Namun Kinal dengan cepat beranjak dan menangkap tubuhku agar tidak jatuh keatas lantai, wajahku memanas.
"Hati-hati atuh Ve!"
"Ah...i....iya...." Ucapku gemetar, tak lama air mataku mengalir, aku tak mampu membendungnya lagi.
Aku merasa lelah.
--
Semenjak hari itu, aku sudah banyak mencoba untuk memberikan berbagai clue untuk dia, bahkan sampai aku mencoba untuk menggodanya, tapi entah kenapa perasaanku tak bisa sampai kepadanya.
Aku tidak mengerti, apa Kinal memang benar sepolos itu? Apa dia sebenarnya pura-pura tidak tahu?
Apa yang sebenarnya dia pikirkan? Aku tidak mengerti.
Aku menutup mataku dengan lenganku, helaan nafas lari dari antara bibirku, aku merasa pasrah.
Sudahlah, mungkin memang sudah takdirku untuk bertepuk sebelah tangan seperti ini, dan parahnya lagi, orang yang aku cintai bahkan tidak tahu atau mungkin tidak mau tahu bahwa aku jatuh cinta padanya.
Apakah ini karma karena hasrat kotorku?
'Kotor', karena dia juga adalah wanita, dia adalah gender yang sama denganku.
"Hey, kamu kebiasaan ya tidurnya nggak diatas kasur." Tiba-tiba saja terdengar suara di sebelahku.
Aku berteriak kencang.
"O-Oi buset teriak kenceng amat, s-sori udah ngagetin kamu, Ve...." Dia memegang lenganku, mencoba menenangkanku.
Aku bertanya-tanya, sejak kapan dia sudah berada di sampingku? Kenapa aku bisa tidak menyadarinya? Apakah tadi aku tertidur?
"Ng...Nggak apa-apa....akunya aja yang nggak sadar kamu sudah pulang, nal."
Lalu dia tertawa kecil dan tangannya mengelus kepalaku, aku merasa diperlakukan seperti anak kecil. Lalu aku menggembungkan pipiku, kemudian dengan jari telunjuknya dia menusuk pipiku.
"Jangan ngambek, kamu lucu kalo ngambek."
Lagi.
Dia selalu seperti ini, kata-kata dia selalu membuatku berpikir bahwa aku mendapat secercah harapan, seperti tindakan-tindakannya. Pola pikir manusia itu sungguh kompleks, aku mencoba untuk mengerti dia, namun nihil.
Dia yang sekarang ini tinggal seatap bersamaku hanya membuatku semakin bingung, karena dia membuatku berharap lebih, namun ketika aku mencoba memberi tahu perasaanku, aku tidak mendapatkan balasan yang sesuai dengan harapanku.
Apa yang kau mau?
Pikiranku sudah naik pitam, kedua tanganku menggenggam kedua pundaknya, lalu kudorong tubuhnya dengan kencang keatas sofa, dan akupun memanjat tubuhnya dan menjebaknya diantara tubuhku, mataku menatapnya dengan penuh amarah.
"O-Ow....V...Ve--" Tanpa pikir panjang akupun menunduk dan menenggelamkan bibirku di bibirnya, aku tidak mau menunggu lebih lama lagi, aku sudah tidak kuat, perasaanku sudah tak terbendungi lagi.
Aku dapat merasakan tubuhnya bergidik, tapi aku tidak memperdulikan itu dan menciumnya lebih dalam lagi, aku ingin dia mengerti apa perasaanku sebenarnya. Dia mulai mencoba mendorongku dengan kedua tangannya, namun aku tidak mau kalah, dengan kedua tanganku aku menarik tubuhnya untuk mendekati tubuhku agar aku dapat menenggelamkan bibirku lebih dalam lagi.
Kukulum bibirnya dengan dahsyat, aku keluarkan semua rasa frustasi dan juga semua rasa cintaku kepadanya diwaktu yang sama, aku ingin perasaanku kali ini tersampaikan semua, aku ingin dia mengerti betapa aku...aku...
Dia dorong aku dengan sangat kuat, "V-VE! KAMU NGAP--"
"DIAM!! AKU CINTA SAMA KAMU KINAL BODOH!!" Nafasku tersengal-sengal, aku genggam bajunya dengan sangat erat, terbesit niat untuk merobeknya karena amarah yang memuncak.
Aku menundukkan kepalaku, dapat kurasakan air mataku mengalir dengan sangat deras, isak tangisku pun akhhirnya pecah, perasaanku meledak.
Aku tidak berani untuk menatapnya, aku takut. Aku menyesal akan perbuatanku barusan, aku tidak ingin dijauhi, aku tidak ingin dia benci padaku, tapi harus aku akui bahwa aku sudah tidak mampu menahan diriku lagi, aku terlalu sayang padanya.
"Ve...."
"Kamu...kenapa tidak pernah mengerti......aku sudah...mencoba memberi tahu kamu selama ini....!" Ujarku diantara isak tangis, suaraku gemetar, seluruh tubuhku gemetar, aku frustrasi, aku sudah tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah.
Beberapa menit dilewati dengan suasana hening, hanya suara tangisanku yang dapat terdengar di dalam ruangan itu, Kinal terdiam seribu bahasa.
Lalu, aku dapat merasakan dua buah tangan memegang pipiku, dan kedua jempolnya mencoba untuk mengusap air mataku. Ini membuatku mencoba memberanikan diri untuknya menatapnya.
Aku dapat melihatnya mengernyitkan dahinya, matanya menunjukkan rasa bersalah yang amat dalam, lalu dia menarik wajahku dan mempertemukan bibirnya dengan bibirku lagi, mataku terbelalak.
Dia menjauhkan bibirnya 1cm dari bibirku lalu berbisik, "Maafkan aku....Ve....aku.....aku tidak mampu mendengarkanmu...." Suaranya tidak seperti Kinal yang seperti biasa, lembut dan
kecil.
"Ve....aku...tidak tahu harus berkata apa...." Bisiknya.
"...Bisa nggak, kamu beritahu aku....kamu sebenarnya perasaannya seperti apa ke aku....?"
Kinal terdiam, dia menjauhkan wajahnya dariku, aku dapat melihatnya menatap kearah lantai, wajahnya menunjukkan bahwa dia sedang berpikir keras. Aku siap menerima apapun jawabannya, aku hanya ingin semua menjadi jelas, aku lelah terjebak.
"Aku.....aku nggak tahu apa yang kurasakan sama atau tidak denganmu...." Dia menelan ludahnya, "Tapi....aku tahu akan satu hal...."
"Apa...?"
Wajah Kinal memerah, bibirnya gemetar, matanya tidak dapat fokus ke satu tempat, dia terlihat sangat gugup.
Apakah....?
"Uhm....aku tahu ini terdengar aneh......tapi aku....tidak keberatan dicium sama kamu." Gumamnya, untungnya aku dapat mendengar semua perkataannya.
Jantungku berdegup kencang, mulutku sedikit terbuka karena shock. Itu...Itu sudah jelaskan maksudnya?
"Ve...aku---"
"Sudah, cukup." Aku lingkarkan kedua lenganku di lehernya dan menciumnya, aku tutup mataku dan kurasakan dengan seksama rasa dari bibirnya.
Kinal sedikit mengerang kedalam mulutku, tetapi dia membalas ciumanku dengan perlahan. Ini membuatku memperlambat pergerakanku dan mencoba untuk menyamakan dengan kecepatannya, dia terasa sangat malu-malu.
Perlahan kutarik tubuhnya, aku mulai berbaring diatas sofa itu dan menarik tubuhnya keatasku, bibir kami tidak terlepas.
Namun kami berdua membutuhkan udara, akhirnya kami pun melepaskan bibir kami dan saling menatap dengan pandangan yang sayu.
"Uhm...Ve--"
"Diam, lanjutkan." Gumamku diantara nafasku yang tersengal-sengal. Kinal menarik nafasnya sebelum kemudian kembali menyerang bibirku, aku tersenyum di bibirnya.
Ternyata memang ada benarnya lirik Shonichi itu; 'Usaha keras tidak akan mengkhianati'.
Malam itu, merupakan malam yang tidak dapat aku lupakan, itu adalah malam dimana dua perasaan dan pikiran bertabrak menjadi satu.
THE END
Hope you enjoyed the sequel for 'Trapped'!
........Ahem, there's bonus down here ahem.
--
"...Ve, lehermu kenapa?" Tanya seorang gadis maskulin berambut pendek kepadaku.
"Hm? Oh ini......semalem ada serangga bandel banget gigit leherku sampai bekas gini, Ghaida." Ujarku sambil tertawa sedikit jahat, mataku menatap gadis yang berada di sebelah gadis berambut pendek itu.
Wajah Kinal memerah, dia mengalihkan pandangannya dariku dan menggeram.
Ah, ini pertama kalinya aku bisa se-senang ini.
Gue suka sama ceritanya, feel nya dapeet bangeet :D
ReplyDeletelanjutin dong kak, sama ff lain juga ;)
Kak ff yg lainnya lanjutin donggg seru seru lohhh feel dari cerita kaka juga kerasa bangett plisss kakkk lanjutt lagiii (T A T)
ReplyDeletelanjut dong
ReplyDelete