Friday, July 12, 2013

Please Teach Me, Again

Mataku kosong, mulutku sedikit ternganga.

Berbagai macam kata melintasi sudut-sudut pikiranku, mencoba untuk benar-benar memahami apa yang telah terjadi, dan apa yang akan terjadi.

"Ghai? Ghai?" Sebuah tangan berayun tepat di depan wajahku, namun rasa terjekut yang kurasakan membuatku tak bisa melihat tangan itu, aku bahkan tidak dapat mendengar suara lembut itu.

"GHAIDA!"


"UWAH!!" Aku berteriak, saking terkejutnya mendengar suara teriakan yang muncul tiba-tiba, tubuhku nyaris kehilangan keseimbangan karena teriakan itu. Mataku berkedip dengan

cepat sebelum kemudian aku menatap dirinya.

"Ghaida! Kamu kenapa nyuekin aku sih?! Aku udah manggil kamu dari tadi loh!" Nada tinggi keluar dari bibir mungil seorang Dhike, wajahnya terlihat sangat dingin, ah, ini sisi tsunnya.

"Eh, oh, uhh....nggak, aku cuma masih.....bingung." Dahiku mengernyit ketika aku mengingat-ingat kabar yang kudapatkan beberapa menit yang lalu.

"Apa? Blocking Junjou?" Ujarnya ketus.

Tubuhku bergidik.

Junjou Shugi, unit song yang sangat seksi di setlist Pajama Drive. Beberapa menit yang lalu aku baru saja di beri tahu bahwa Sonya dan Dhike tidak bisa hadir di show theater selanjutnya dan aku harus mengisi kekosongan posisi mereka.

Masalahnya, ya, mereka berdua itu adalah wanita berbaju merah, atau center dari Junjou Shugi yang sangat fenomenal.

Ya, yang seksi itu.

Ya, itu posisiku.

Aku? Ghaida Farisya yang tomboy ini?

Aku? Membawakan Junjou Shugi?

AKU?

Aku hanya mengeluarkan sebuah teriakan yang tak bersuara di hati.

Tubuhku tertunduk lemas dan jari-jariku menggaruk lantai, suara keras nyaris kubiarkan lari dari mulutku. Tubuhku bergetar, entah karena perasaan apa. Shock? Merasa geli karena akan membawakan lagu yang sangat tidak seperti aku? Atau bangga?

Entahlah, perasaanku campur aduk.

Satu hal yang sangat jelas kutahu, aku ingin membenturkan kepalaku ke sebuah benda yang padat dan keras.

"Astaga Ghaida, segitunya...." Ujar suara lembut itu, membuatku tersadar dari dunia pikiranku sendiri.

"Ha-Ha-Habisnya 'key..........ini Junjou 'key, JUNJOU!" Akhirnya suaraku tak tertahankan lagi, aku merasakan rasa frustrasi yang menggebu.

"E-Eh iya-iya kamu tenang dulu Ghai.........."

"3 hari lagi loh 'key, junjou 'key, kenapa sih kamu harus nggak bisa da--" Mulutku dibekap oleh sebuah tangan yang lembut, tiba-tiba saja aku dapat mencium sebuah wangi yang sangat menenangkan dari tangan itu.

"Sssstttt, sudah-sudah, kamu tenang dulu!" Ikey menghela nafasnya, "Makanya aku mau ngajarin kamu bawain blocking aku itu!" Dahinya mengernyit, matanya menyipit, ekspresinya terlihat dingin namun bibirnya sedikit mencibir karena kesal.

Dengan sekejap aku terdiam, dan aku dapat merasakan darahku berdesir hebat di wajahku.

Oh ya Tuhan, Dhike manis ya.

"Ayo berdiri, aku ajarin dancenya junjou dulu."

Dengan cepat aku berdiri, entah mengapa suaranya khasnya yang sangat lembut membuat tubuhku bergerak sendiri sesuai kemauannya. Aku sungguh tidak berdaya menghadapi suara itu, suaranya sungguh mematikan untukku.

Pertama-tama, Ikey menunjukkan seperti apa tarian untuk lagu junjou sambil menggumamkan nyanyiannya. Wajahnya terlihat sangat fokus, ekspresinya berubah, seakan-akan dia sedang menari untuk para fans.

Aku tatap dengan tajam setiap pergerakan lengannya, kakinya, dan wajahnya. Mencoba untuk benar-benar menghapalkan tariannya itu cukup sulit karena gerakannya yang gemulai, ekspresinya yang sangat menghayati lagu itu, terlalu indah untuk mataku sehingga aku kehilangan konsentrasi.

Dan gumamannya itu sangat enak untuk di dengar....

"Nah, kira-kira dancenya begitu, nggak terlalu sulit kok sebenarnya."

Aku sempat terbengong-bengong dan nyaris tidak mendengarkannya, "Uh, eh.....iya."

"Okelah, kita mulai dari intro dulu ya Ghai." Ikey mengedipkan matanya kepadaku, sebuah senyum nakal muncul dibibiranya.

Salahkah kalau hatiku bereaksi karena sisi derenya itu?

Aku menepuk dadaku, mencoba menenangkan diriku, kemudian mengambil nafas dalam-dalam. Aku mengangguk kepada Ikey, kode bahwa aku sudah siap untuk belajar. Ikey membalas anggukkanku dan pelan-pelan menunjukkan gerakannya satu demi satu, kali ini aku mencoba fokus terhadap gerakannya.

Ya, walau tetap banyak godaan yg mengalihkan fokusku.

Setelah sekitar dua jam aku mencoba menghafalkan gerakan sambil mengikuti tarian Ikey, akhirnya Ikey membuatku menarikan lagu itu sendiri. Kali ini dengan musik, dia mengeluarkan handphonenya dan menyalakan lagu instrumental Junjou Shugi...

"Maafkan aku, kubersumpah, kepada prinsip~"

...sambil menyanyikannya.

Aku hanya dapat menelan ludah. Oh, ini akan sangat, sangat sulit karena aku sangat lemah mendengarkan suara nyanyiannya di lagu ini, suaranya yang lembut, dan sedikit terdengar.....mendesah.

Oke, oke, aku harus kembali fokus.

Sambil mendengarkan beat dan rythm lagu tersebut, aku pun berusaha keras menggerakkan badanku dan menari segemulai dan se..seksi mungkin. Walau aku merasa aneh pada awalnya karena aku terbiasa membawakan lagu yang lebih maskulin. Namun pada akhirnya aku bisa melakukannya lebih baik ketika aku mendengarkan dengan baik suara lembut

Ikey dan membayangkan ketika dia yang membawakan lagu ini.

Tubuhku bergerak dengan sendirinya ketika bayangan Ikey membawakan sang wanita merah ada di dalam benakku, aku projeksikan lekukan-lekukan tubuh Ikey ketika membawakan lagu ini ke tubuhku sendiri, menghasilkan sebuah style gerakan yang siapapun belum pernah lihat. Seorang Ghaida Farisya menari gemulai.

Seakan-akan tubuhku ini adalah air yang berjalan mengikuti arus, bergerak dengan mulusnya, semua ini terjadi karena bayangan seorang Ikey. Saat ini, aku merasa bahwa yang kulihat di cermin yang berada di depanku ini adalah seorang gadis yang berbeda. Aku, tapi dengan sentuhan Ikey, ya aku tahu itu terdengar ambigu.

Ketika aku selesai menarikan lagu itu, aku menatap Ikey, aku dapat merasakan wajahku memanas.

"Wow." Adalah satu kata yang dapat diucapkannya.

"W-Wow...?" Aku mencoba mengeluarkan suaraku yang tadinya tertelan entah kemana.

Sepasang tangan tiba-tiba meraih pinggulku dan memegangnya erat, aku berteriak karena terkejut.

"Pinggulmu kayak karet, aku baru tahu kamu bisa dance kayak gitu." Di remas-remas pinggulku, darahku berdesir cepat dan jantungku berdetak hebat. Aku mencoba menenangkan diriku dengan segala sisa kekuatanku.

"Aku aja nggak selentur itu pinggulnya.....kamu gimana bisa lentur begini tiba-tiba?" Dia menatap ke mataku, aku menatapnya balik dengan bibir yang bergetar.

"Ka...ka....karena sentuhanmu--"

"Hah?"

"--E-Eh maksudku karena...uhm...kerja keras! Ya, Kerja keras!"

Aku sangat ingin memukul diriku sendiri.

"Hmm....berarti kamu sudah nggak butuh bantuanku, sudah bisa sih. Oh, udah waktunya pulang kan ya?" Ucapnya sambil melepaskan dirinya dariku, aku menghela nafas lega.

"Uhm..."

"Ya udah, waktunya pulang! Aku pulang sama Beby lagi hari ini, sampai ketemu besok Ghai!" Dia melambaikan tangannya dan berjalan menuju dimana tasnya berada, kemudian dia angkat tasnya dan hendak melangkah pergi.

Hatiku seperti tercekik melihatnya, entah kenapa aku tidak menginginkan dia pergi, aku ingin melihat lagi wajah tsunderenya, aku mau mendengar suara lembutnya lagi. Aku...tidak ingin berpisah.

"...Ikey!"

Dia menengok kearahku dan memberikan tatapan penuh tanya, "Ada apa...?"

Aku menelan ludahku, "Tolong....ajarkan aku lagi...?"

Sebuah senyum penuh makna muncul pada bibir Ikey, matanya menatapku tajam seakan-akan menelanjangiku. Kemudian Ikey berjalan mendekatiku dan membawa wajahnya beberapa senti dari wajahku, sekali lagi aku menelan ludahku.

"Sebagai gantinya aku nginep di tempatmu, ya?" Bisiknya dengan nada nakal.

Aku nyaris pingsan di tempat.

THE END

No comments:

Post a Comment