Adrenalin dapat terasa melaju sangat cepat di dalam tubuh ini. Walaupun keringat sudah mengucur deras, walaupun nafas sudah menjadi berat, namun aku siap untuk membawakan lagu selanjutnya.
Hari itu adalah konser first anniversary JKT48, sebuah konser besar untuk kami. Pada hari itu kami membawakan dua show, seharian penuh kami menari dan menyanyi demi para fans yang datang jauh-jauh demi melihat kami.
Pada hari itu, aku memiliki perasaan penuh akan suka cita. Memikirkan bahwa tanpa sadar kami sudah berdiri diatas pangung entertainmen selama satu tahun, waktu yang terbilang tidak sebentar. Satu tahun itu berisi keringat dan tangis, serta berbagai macam keluhan dan amarah ketika kami mencapai batas sabar kami.
Tetapi satu tahun itu pula terisi berbagai macam rasa senang, suka cita, canda dan tawa.
Hari itu adalah hari dimana kami dapat merasakan buah hasil kerja keras kami.
Apa yang tidak kusadari adalah, bahwa dibalik kisah yang membanggakan itu, akan hadir sebuah kesedihan yang sangat pedih. Suatu bencana yang tidak kusangka, bencana yang tidak satu orang pun sangka.
Ketika aku mengambil nafas dalam-dalam, menyiapkan tenaga untuk performance selanjutnya, sepasang lengan melingkarkan diri pada leherku dari belakang, sebuah pelukan yang sangat erat dapat kurasakan dari seseorang ini.
Mulutku sempat terbuka untuk bertanya, tetapi mulutku otomatis tertutup lagi ketika aku dapat merasakan bahwa kedua lengan itu gemetar. Ini bukanlah getaran semangat, maupun getaran karena gugup.
Gemetar karena apa ini...?
Rasa erat yang kurasakan ini sangat aneh, perasaan negatif apa ini?
Lengan ini terasa....jauh, walau sangat erat memeluk leherku. Karena benar-benar penasaran, akupun membuka mulut lagi, hendak bertanya.
Namun dia membuatku terdiam, "Kak Rica........aku sayang kakak kok." Bisik sebuah suara perempuan yang maskulin di telingaku, nafas panasnya sangat terasa dikulitku.
Lengannya memelukku lebih erat, tubuhnya masih gemetar, dan apakah suara menahan tangis yang kudengarkan itu?
Benakku ini penuh akan tanya, mulutku penuh akan kata-kata, namun aku tidak dapat mengeluarkannya, kemana perginya suaraku?
Ada apa ini?
Perasaan apa ini?
Aku dapat merasakan dia, Ghaida, melepaskan pelukannya dariku dan berjalan menjauhiku. Aku pun dengan cepat menengok ke belakang untuk memanggilnya, tetapi aneh, sosoknya sudah tidak terlihat karena tertelan oleh banyaknya orang di backstage ini, kemana dia pergi?
Sampai jelang mulai performance selanjutnya, aku tidak melihat dia. Jantungku berdegup sangat kencang karena rasa khawatir yang mendera. Tetapi demi profesionalitas, aku harus menahan segala macam perasaan dan melakukan performa yang terbaik.
Ketika waktu performance selanjutnya tiba, aku berlari menaiki tangga stage itu, menuju cahaya lampu sorot yang panas di kulit dan tajam di mata. Disaat kami membawakan lagu, dalam sepintas aku dapat melihat sosok misterius itu, aku dapat melihat performa dia yang sangat hebat, dan tebaran senyum yang tidak kentara.
Aneh, ini aneh, perasaan kosong apa ini?
Setelah lagu ini selesai, kami pun masuk pada sesi MC.
Disinilah dimana rasanya duniaku runtuh.
Tiba-tiba saja gadis maskulin itu maju, dan memegang micnya dengan dua tangan sambil menunduk.
Astaga....tidak....tidak mungkin.
Jantungku berdebar sakit, mataku terbelalak, tubuhku bergidik dan bulu kudukku berdiri. Aku sekarang tahu mengapa dia bersikap seperti itu, sekarang aku tahu kenapa dia serasa jauh dan akan menghilang.
Tidak....
"Aku...."
Tidak...!
"Ghaida Farisya...."
TIDAK!
"Menyatakan bahwa aku akan gra--"
Pada saat itu pandanganku menjadi hitam, sebuah teriakan sangat kencang bergema dihatiku, rasa sakit yang hebat menjalar dari dada, tenagaku hilang semua dalam seketika. Aku dapat mendengar ratusan teriakan di sekitarku.
Aku tidak kuat sendirian disini tanpamu.
Jangan tinggalkan aku, Ghaida...
THE END
No comments:
Post a Comment