Decitan yang keras, dan suara yang lantang.
Aku merasakan tubuhku terdorong ke depan, waktu terasa sangat lambat.
Ketika tubuhku dan kepalaku terantuk alas yang keras dan kasar, mataku dengan refleks melihat ke belakangku. Dapat kulihat sosok wanita berambut panjang dengan tubuh ramping, dan wajah yang sangat menawan, menatapku.
Pada momen yang hanya sepersekian detik itu, aku dapat melihat sebuah senyuman yang menunjukkan rasa lega.
"Syukurlah." Entah bisik suara darimana ini, entah apakah itu suara dia, aku hanya dapat mendengar suara ini di dalam hatiku.
Sebelum akhirnya semua menghilang, pandanganku di penuhi dengan warna merah. Pemandangan yang kulihat sangatlah menjijikan, cairan merah yang berterbangan dan bahkan sampai menyentuhku, bagian-bagian tubuh yang sedikit terkoyak, dan tubuh yang terpelanting ke atas bagian mobil sebelum akhirnya jatuh kembali ke tanah.
Mataku yang sudah sedikit buram masih dapat melihat apa yang terjadi setelahnya, mobil itu tetap melaju kencang tanpa peduli apa yang terjadi dibelakangnya.
Ketika pikiranku mulai menyadari apa yang sedang terjadi, adrenalin mulai mengalir di seluruh tubuhku. Pandanganku yang buram mulai kembali jelas, dan walau aku tahu tubuhku ini penuh luka, aku dengan sangat cepat berdiri dan berlari kearah sosok itu.
"VE!!!" Kukeluarkan suaraku yang penuh akan rasa khawatir dan putus asa.
Dengan cepat aku berlutut, sedikit menghantam lututku itu ke atas aspal yang kasar, lalu aku angkat tubuh bagian atasnya dan memeluknya dengan erat. Nafasku terasa berat, jantungku berdebar tidak karuan, dan bibirku gemetar.
"Ve...! VE...!!" Aku teriakkan namanya sambil mengguncang tubuhnya. Kutatap tubuhnya, aku dapat melihat banyak bagian tubuhnya yang terkoyak, darah menghiasi tubuhnya, namun anehnya, wajahnya nyaris tanpa luka.
Beberapa detik setelah kutatap tubuhnya yang ada dalam kondisi yang mengenaskan, aku menyadari bahwa dia tidak bernafas. Mataku terbelalak, tetapi aku tidak ingin percaya. Akhirnya aku meletakkan tubuhnya di atas aspal itu kembali.
Karena adrenalin yang mengalir di dalam tubuhku, daya pikirku menjadi sangat cepat. Tanpa pikir panjang aku mencoba memberikan nafas buatan.
Kudongakkan kepalanya sedikit ke atas dan kuhimpit kedua lubang hidungnya dengan jariku, lalu aku menunduk dan menyentuhkan bibirku ke bibirnya dan mulai menghembuskan nafasku, di mana aku berharap nafasku dapat menjadi nafas kehidupan baginya. Namun aku tidak berani memompa dadanya, karena takut ada tulang yang menusuk paru-parunya dan aku akan membuat itu menjadi lebih buruk.
Aku hanya bisa menenggelamkan bibirku lebih dalam lagi dan mencoba untuk terus menghembuskan nafasku ke dalam dirinya. Air mata yang bercampur dengan darah sudah mengalir deras di pipiku, aku merasa sangat putus asa.
Tolong jangan tinggalkan aku.
Aku merasakan rasa darah di dalam mulutku, mataku terbelalak kemudian aku menjauhkan bibirku darinya. Dapat kurasakan darah mengalir keluar dari dalam mulutku. Kutatap gadis yang tergeletak di atas aspal itu, dia terbatuk-batuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya, terlihat seperti mencoba bernafas lagi.
Seketika itu juga aku merasakan ada harapan baginya.
"Ve!!" Tanpa meperdulikan rasa darahnya yang ada di mulutku, aku meneriakkan namanya. Kuangkat tubuhnya dan sekali lagi kubawa tubuhnya di dalam dekapanku. Aku menempelkan dahiku ke dahinya, aku terus membisikkan namanya dan membisikkan bahwa dia akan baik-baik saja berulang-ulang kali.
Lalu aku dapat mendengar suara ambulans dari kejauhan, aku tersenyum dengan penuh harapan.
-
-
"Kamu ingat itu? Rasanya seperti kemarin..." Aku tertawa kecil, mataku menatap tangan berkulit pucat yang kugenggam se-erat yang kubisa.
Pundakku bergidik, air mata akhirnya mengalir dan membasahi pipiku ini. Kutatap tangannya dan tanganku, dahiku mengernyit ketika aku menatap ke tanganku yang renta, dan sudah penuh dengan keriput.
Mataku kali ini melihat kearah sosok di depanku, sosok seorang wanita yang kecantikannya bagaikan dewi, tergeletak tak bergerak diatas kasur berwarna putih, di dalam ruangan yang serba putih. Dapat terdengar alunan suara mesin yang berada tepat di samping kasur, menunjukkan bahwa jantungnya berdetak dengan konstan dan stabil.
Walaupun begitu, matanya tidak terbuka.
Melihat tangan-tanganku yang sudah penuh akan keriput membuatku berpikir, sudah berapa lama aku menunggunya untuk membuka matanya?
Semenjak hari itu, aku selalu berada di sisi Ve, menunggu di samping tempat tidurnya sambil menggenggam tangannya. Setiap hari aku mendatanginya dan berbicara mengenai pengalaman-pengalaman yang kudapatkan hari itu, Ve bagaikan diariku.
Bertahun-tahun telah terlewati, dan aku tetap berada disampingnya, bercerita, sambil berharap suatu saat dia akan membuka matanya yang indah itu lagi.
Dan kini...rambutku sudah berubah menjadi putih, postur tubuh yang tegap dan gagah telah membungkuk, suara yang tegas dan lantang telah melemah. Aku hanyalah seorang wanita tua yang renta sekarang.
Namun aneh, mengapa sosok yang berada di depanku ini tetap terlihat sangat cantik? Dia memang terlihat menua, tetapi kecantikannya tetap masih sangat bersinar, layaknya dia hanya bertambah umurnya 10-20 tahun dari semenjak kejadian itu.
Padahal waktu telah terlewati begitu banyak hingga tubuh ini sudah menjadi tua dan renta. Sungguh hebat gadis yang bagaikan dewi satu ini.
Sampai sekarang aku masih menunggunya.
"Ugh....!" Aku sedikit mengerang, satu tanganku meraih dadaku dan menggenggam bajuku, dan tangan lainnya memegang tangan Ve dengan sangat erat.
Tubuhku bergetar, nafasku sangat berat dan aku tidak bisa bernafas dengan lancar karena aku terbatuk-batuk.
Apakah ini sudah waktuku?
Aku membawa tangannya ke dadaku dan menggigit bibir bawahku, rasa sakit yang kurasakan di dada ini tak tertahankan. Dengan tenaga terakhir aku mengangkat kepalaku dan menatap wajahnya yang begitu menawan.
Wajahnya yang sudah mencuri seluruh diriku.
Aku menggertakan gigiku, rasa sakit semakin menjadi, nafas pun semakin sulit.
"Aku......Aku masih.....ingin....menunggumu hingga...kamu bangun...!"
Kumohon, setidaknya berikan aku waktu lebih lama lagi hingga dia membuka matanya.
Kumohon, ya Tuhan.
Pandanganku menjadi gelap, suara mesin yang ada di samping tempat tidur itu mulai menghilang, airmata keluar tak terkendali.
Sebuah erangan kecil, "......Kinal.....?"
Mataku terbuka lebar, aku dapat melihatnya membuka matanya perlahan, menunjukkan kedua bola matanya yang indah itu kembali.
Aku pun tersenyum puas.
Dan akhirnya membiarkan diriku pergi.
Hanya untukmu, aku berikan seluruh diriku padamu hingga detik terakhir.
THE END
No comments:
Post a Comment