Thursday, July 11, 2013

Loving This Tsundere Girl (Part 01)

Warning, this fanfiction will contain adult material.

Keringat bercucuran, nafaspun semakin berat dan terengah-engah. Aku menggerakkan tubuhku sesuai irama musik yang terngiang di telingaku. Walaupun mata ini telah tertutupi rambut yang telah basah dengan keringat, walau pandangan mata ini buram rasanya karena rasa letih yang mendera.


Tapi kenapa?

Mengapa sosoknya sungguh berkilau? Padahal pandanganku ini sudah buram, tapi kenapa sosoknya dapat terlihat jelas dan berkilau?

Walaupun aku sudah sangat letih, aku masih dapat melihat dengan jelas bagaimana dia menggerakkan tubuhnya sesuai dengan irama musik, aku masih dapat melihat bagaimana dia masih dengan semangat dan dengan senyumannya yang khas bergerak, menari, bahkan menyanyikan lagu sesuai dengan irama.

Aku dapat melihat keringatnya mulai bercucuran, entah kenapa rasanya aku ingin sekali mendekatinya dan memberikannya handuk untuk mengelap wajahnya yang sudah dibanjiri oleh keringat.

Entah kenapa, melihat sosoknya yang seperti ini rasanya aku.....

"Ow!! Aduh...!" Aku mengerang kesakitan karena terpeleset oleh kakiku sendiri dan terjatuh ke lantai dengan keras.

"Eh? Ghaida!" Aku mendengar seseorang memanggil namaku dan melangkahkan kakinya kepadaku.

Aku mengerang sambil memegang kepalaku, lalu aku dpt merasakan satu tangan yang hangat diatas tanganku. Dengan sekejap ku menarik napas dan melirik ke arah seseorang itu.

Ikey.

"Ghaida, kamu nggak apa-apa?"

Jantungku berdegup kencang, wajahku merona merah, rasa sakit yang kurasakan di kepalaku menghilang seketika, digantikan dengan rasa yang panas di dada.

"Ah uh...aku..nggak apa-apa, Ikey."

"Tapi kepalamu..." dia sentuh kepalaku dan mengelusnya dengan lembut. Aku menggigit bibir bawahku dan mengalihkan pandanganku.

Jantungku serasa seperti sedang berteriak. Karena takut dia bisa mendengarkan hentakan detak jantungku itu, dengan segera aku pun berdiri dan bersiap untuk latihan kembali. Sekejap aku dapat melihat ekspresi bingung Ikey, sebelum wajah tsunderenya yang dingin kembali menyelimuti wajah mungilnya itu.

"Ghai~! Udah siap belum lu?? Kita dikejar waktu loh!" Teriak seorang gadis, dari suaranya aku mengetahui bahwa itu adalah Kinal. Aku hanya memberikan sebuah acungan jempol, karena aku masih belum bisa menemukan suaraku yang entah kenapa menghilang.

Ikey...

"Cukup, Ghaida.....kenapa kau ini?" Aku berbisik kepada diriku sendiri, sebelum kemudian aku memposisikan diri untuk menarikan lagu 'Aitakatta', lagu yang akan kami, JKT48, bawakan di Kohaku Uta Gassen, sebagai surprise.

Setelah latihan kami yang sangat intensif dan melelahkan, tanpa pikir panjang aku merebahkan tubuhku di lantai yang dingin. Lumayan, tubuhku merasa panas, hawa dingin ini akan mengurangi rasa kepanasanku.

"Ghaida." Panggil seorang gadis tsundere sambil duduk di sebelahku, aku melirik ke arah dia dengan perasaan yang agak campur aduk, letih, dan berdebar. Kutatap wajahnya yang dingin, menunggu apa yang ingin dia katakan padaku, sambil menunggu, aku mendengarkan suara terengah-engahnya yang lembut. Entah kenapa itu membuat darahku berdesir dan wajahku memanas, suaranya itu sangat....

Ah tidak, tidak, jangan berpikir seperti itu Ghaida!

Aku dapat melihat bibirnya terbuka sedikit, seakan-akan ingin mengatakan sesuatu, namun dia menutupnya kembali. Rona merah muncul di pipinya, namun wajahnya tetap dingin, tetapi aku tahu dia memaksakan wajah dingin itu.

"Ada apa, Ikey?" Aku bertanya kepadanya dengan lembut, walau dengan nafas yang masih agak tersengal-sengal.

"....An..."

"An?"

"An...terin aku ke...wc dong."

Jantungku berhenti untuk sepersekian detik. Aku tak kuasa melihat wajahnya yang dingin tapi kelewat imut itu, dasar tsundere.

Aku tarik napas panjang, kemudian aku pun berdiri dan menawarkan tanganku kepada Ikey yang sedang terduduk menatapku dari bawah, tatapan matanya sedikit tersembunyi di balik poninya dan itu membuat jantungku berdebar lagi. Dia lalu menggenggam tanganku dan berdiri, sentuhan tangannya membuatku merinding.

Tanpa disadari kami berjalan bersama menuju WC sambil berpegangan tangan.

Sambil menunggu Ikey yang berada di dalam stall wc, aku menatap diriku sendiri melalui refleksi cermin. Dahiku tampak berkerut, wajahku memerah, melihat itu aku membasuh mukaku dengan air yg ada di wastafel.

Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Belakangan ini....perasaanku selalu tidak terkendali di hadapan seorang Dhike, atau Ikey biasa aku panggilnya. Jantung yang berdebar, darah yang berdesir, wajah yang panas, dan rasa merinding selalu menderaku. Aku terus menatap refleksiku tanpa henti, berharap refleksiku memiliki jawaban untukku.

"Aitakatta...Aitakatta Yes..! Denganmuu." Gumam gadis yang masih berada di dalam stall wc.

Mataku terbelalak, sebuah jawaban muncul di dalam kepalaku saat mendengar gumaman Ikey. 'Aitakatta', ingin bertemu. Bertemu......

"Astaga...." Bisikku sambil menutup mulutku dengan tanganku, wajahku memerah, mataku terbelalak sangat lebar.

Aku tahu jawabannya, aku tahu sekarang.

Aku selama ini selalu ingin bertemu bukan, dengan Ikey? Disaat latihan aku selalu menatap kearahnya, berharap bisa bertemu setelah latihan. Setelah latihan aku mencarinya, ingin bertemu dan berbincang-bincang dengannya. Saatku pulang, aku ingin bertemu dengannya, karena ada rasa rindu yang muncul.

Aku...aku ini.....

"Jatuh cinta padanya...."

"Hah? Apa?" Aku nyaris menjerit dan melompat saat mendengar suara itu, dengan cepat aku menoleh kearah datangnya suara itu. Aku melihat Ikey baru saja keluar dari stall wc tersebut dan sedang menatapku.

"I-Ikey!"

"Eh? Kamu kenapa sih Ghaida?" Dia memberikan tatapan yang penuh pertanyan dengan sedikit memiringkan kepalanya. Ikey, kenapa seluruh reaksimu begitu imut....

"Ng-Nggak ada apa-apa...!"

"O-Oke.....uhm...mau balik ke tempat latihan? Kita kan seharusnya pulang ke hotel sekarang."

"Uhm...I-Iya."

...Hotel. Astaga, aku baru ingat, di hotel kan....

Dengan wajah yang masih memerah aku pun berjalan di samping Ikey, namun aku tidak kuasa memandang wajahnya. Setelah kita berdua mengambil barang-barang kami di tempat latihan, kita dan seluruh member lainnya pun beranjak pulang menuju hotel.

Di dalam bus, aku dan Ikey duduk berdua, sepanjang perjalanan pulang Ikey meletakkan kepalanya di pundakku dan meletakkan tangannya di pahaku. Walau jantung ini berdegup sangat kencang, namun kali ini aku memberanikan diri untuk melihat wajahnya. Terlihat bahwa Ikey tidur dengan sangat pulas, sebuah senyuman kecil berada di bibirnya, dan dia bernafas dengan sangat lembut dan tenang, pemandangan ini sungguh mendamaikan hati.

Tapi tidak bs mendamaikan jantungku, sayangnya.

"Ah," Aku dapat melihat hotel kami dari kejauhan, "Ikey....bangun, kita udah sampai." Ucapku dengan pelan sambil sedikit menggoyangkan tubuhnya.

Dahinya terlihat mengkerut ketika dia membuka matanya dan menatapku, aku sedikit menelan ludah saat melihat ekspresinya yang sangat dingin dan menyeramkan. Dengan otomatis aku mengelus kepalanya, dan kemudian wajah dinginnya itu pun sedikit demi sedikit menjadi lebih hangat.

"Ayo 'key." Ujarku, dia mengangguk pelan kepadaku dan sedikit menguap, hampir saja rasanya aku ingin memeluk dia dengan sangat erat.

Di hotel, lebih tepatnya di kamar KITA BERDUA, aku hanya terduduk diatas kasur dengan perasaan yang tidak karuan. Ya Tuhan, kenapa aku harus satu kamar dengan dia? Kenapa waktu itu aku mau saja diajak Ikey sekamar? Ya Tuhan aku takut tidak bisa menahan diri....

..untuk....untuk...

GAH!!

Pintu kamar mandi terbuka, aku yang menyadari ini dengan sigap duduk dengan tegak dan membawa peralatan mandiku, bersiap untuk mandi setelah Ikey. Lalu aku berdiri dan melihat ke arah gadis tsundere itu

.......Untuk melihatnya tanpa sehelai kain, dalam keadaan basah kuyup.

"I-I-I-IKEY!!"

"Hah? Kenapa Ghaida?"

"B-B-BAJU..!"

"Oh...aku lupa bawa handukku dan pakaian dalamku."

"K-Kamu kan t-tinggal bilang aku....!"

"Ya aku mau ambil pakaian dalamku sekalian.....masa kamu yang ambilin?"

Aku sudah tidak tahu semerah apa wajahku, aku hanya bisa merasakan betapa panasnya wajahku ini. Aku melirik ke arah lain agar tidak bisa.....melihat lebih jauh. Aku bernafas lega ketika mendengar suara pintu kamar mandi tertutup, pertanda Ikey sudah kembali ke dalam kamar mandi.

Tubuhku dengan sekejap tertunduk lemas, aku merasa seluruh tenagaku telah terhisap oleh...oleh...

Ah Tuhan!!

Kenapa Aku harus jatuh cinta kepada gadis yang dingin tapi sangat imut dan cantik?? Aku...Aku tidak tahu apakah aku bisa menahan diri atau tidak....

"Ghaida..!!" Teriak sebuah suara dari dalam kamar mandi.

"I-Ikey? Ada apa??"

"Uhm....tolong bawa sabunku dong, ada di koperku!"

"Ah uhh...oke!" Aku langsung menuju kopernya dan mencari sabunnya, lalu aku menemukan sebuah sabun batangan. Kemudian aku bawa sabun itu ke kamar mandi.

Aku ketok pintu kamar mandinya, "Ikey, ini sabunmu..."

"Oh, masuk aja Ghaida, aku lagi pake shampo soalnya."

"HAH?" Mataku terbelalak mendengar kata-katanya.

"...Kok pake hah? Cepat sini."

Jantungku nyaris meledak di tempat, tanganku yang memegang sabun ini bergetar, darah berdesir dengan cepat dan seluruh tubuh memanas. Dengan sangat bergetar aku putar kenop pintu kamar mandi, sebelum kemudian aku memasuki kamar mandi itu sambil menelan ludah.

"I...Ikey..?"

"Disini."

Aku melihat ke arah bathtub, terlihat sosok bayangan tubuh Ikey dari gorden yang menutup bathtub itu, lagi, aku menelan ludahku karena merasa tenggorokan ini tiba-tiba menjadi kering. Aku berjalan mendekati bathtub itu dan hendak memberikan sabun batangan itu, namun saat aku berjalan, sabun itu jatuh dari tanganku dan terinjak, aku sedikit berteriak saat aku terjatuh ke dalam bathtub tanpa sengaja.

Oh tidak.

Lalu aku merasakan sebuah kehangatan yang lembut di.....bibirku. Aku yang tadinya memejamkan mataku kemudian membuka mataku untuk melihat sepasang mata menatap balik kepadaku. Mataku terbelalak dengan sangat lebar ketika aku mengetahui apa kehangatan yang berada di bibirku.

....Bibir Ikey.

TO BE CONTINUED

5 comments:

  1. Bang, fanfic yang ini bakal ada terusannya gak?

    ReplyDelete
  2. Ada, tapi sabar ya, saya masih histeris nulis lanjutannya (?)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iye bang, ane bakalan berusaha sabar kok nungguin abang, tapi jangan lama-lama ya. (apaan sih XDD )

      Delete
    2. Bakalan lama kalo gua nulisnya masih sambil jedotin pala ke tembok dan garuk2 lantai

      Delete
  3. Kak, lanjutin doong..
    Gue suka sama alur nya :)

    ReplyDelete